Ketika saya menjelajahi dan mengeksplor foto-foto yang saya miliki, saya jadi ingat beberapa bulan yang lalu saya pernah mengambil gambar ini di kampus saya.
Masih Punya Mainan Seperti Ini?
Belum lama ini saya beberes rumah, termasuk kamar tidur saya. Setelah cukup lama bersimbah peluh —padahal saya baru dua tahun mendiami kontrakan yang sekarang tapi sudah amat berantakan—, saya menemukan beberapa “harta karun” yang telah lama hilang, kalau memang benda-benda tersebut bisa disebut “barang berharga”.
Salah satunya adalah mainan berbentuk burung yang saya bawa dari Surabaya. Entah apa namanya.

Benda ini masih bisa disebut mainan, ‘kan?

Jadi, burung-burungan ini bisa ditaruh di mana saja, dengan bertumpu pada paruhnya, dan ia bisa seimbang dan berpose seakan-akan sedang terbang.
Gimana, ingatkah pernah memiliki atau melihat mainan semacam ini?
[Fiksi] Kesetiaan dan Loyalitas
Tersiar kabar di koran, telah ditemukan mayat seorang pria di Danau Ceska. Jasad Mr. X tersebut ditemukan dalam keadaan terikat rantai pada kakinya, dan rantai tersebut tersambung ke sebuah balok baja di dasar danau. Menurut keterangan polisi, terdapat luka tembak di kepala pria itu, dan balok baja tersebut bukan benda yang sudah lama terkubur di dasar danau. Kesimpulannya, seseorang menembak pria tersebut, baru mayatnya dibuang dengan pemberat di Danau Ceska.
Itulah berita yang dibaca oleh Mikel pagi tadi. Tak ada hari yang lebih menyenangkan selain hari yang dimulai dengan membaca koran. Mengetahui kabar dari seluruh wilayah negeri dan juga dari belahan dunia lain membuat diri ini merasa pintar dan berwawasan luas, well, setidaknya untuk satu hari. Itulah yang mendasari rutinitas Mikel, kebiasaan yang telah dilakukannya semenjak masih remaja. Membaca adalah hobinya, hidupnya, dan berkat membacalah ia bisa berada di posisi seperti sekarang.
Sebagai anak yang lahir di permukiman kumuh dan besar hingga remaja di antara kehidupan mafia dan gangster, tak heran melihat kedudukannya saat ini yang berada di dunia mafia pula. Jabatan yang ia rengkuh sendiri dari bawah adalah berkat kecerdasan, kepintaran, dan pengorbanannya. Pengorbanan harta dan keutuhan keluarga, itu pasti. Ditipu, ditangkap polisi, merugi dalam bisnis, diserang lawan hingga hampir tewas, hingga perceraian dengan istrinya, itu semua yang membuat Mikel menjadi sekarang ini, menjadi seorang pemimpin grup mafia yang amat disegani di wilayah timur kota.
Saat ini Mikel sedang bersama sahabat masa kecil sekaligus orang terpercayanya, Toly Zakher, di depan sebuah rumah pertanian di pinggiran timur kota. Bersama Alex-lah ia membangun jaringan mafianya dari nol hingga besar seperti sekarang. Mereka berdua bagaikan ban kiri dan ban kanan mobil. Saling melengkapi. Jika salah satu dari ban itu rusak, mobil tak akan bisa jalan dengan benar. Seperti itulah kelompok mafia Mikel. Mereka berdua adalah duo yang tak tergantikan. Tak ada penduduk di belahan timur kota yang tak mengenal nama Mikel dan Toly Zakher.

Ayolah, cobalah baca kisah loyalitas mafia yang saya buat ini…
[Fiksi] Tubuh Tergeletak
Waktu sudah memasuki tengah hari. Matahari telah meninggi di atas langit. Saatnya sholat Dzuhur, pikir Rami. Setelah menikmati berbagai macam jamuan dan acara di kampusnya sejak pagi, Rami belum sempat beristirahat sejenakpun. Setelah acara pelepasan di gedung sekolahnya, ia langsung mengikuti berbagai macam pertemuan yang diselenggarakan organisasi yang dipimpinnya. Saat ini, Rami berada di sebuah restoran, tempat ia sedang ditraktir oleh salah seorang kawannya. Rami ingin sekalian beristirahat sehabis sholat dzuhur, cukuplah dengan menyelonjorkan kaki dan berbaring sebentar sambil menunggu makanan jadi.
Rami bergerak menuju musholla. Letak musholla itu berada di ujung belakang bangunan restoran. Kalau tak teliti melihat papan penunjuk arah, tak akan terlihat. Koridor menuju musholla tersebut terlihat dari ruang utama restoran, bersih dan terang oleh lampu. Tak terlihat seorangpun ketika Rami berjalan di sana. Terlihat jelas musholla itu, berada berhadapan dengan tempat wudhu.
Ketika membasuh tangannya di tempat wudhu itu, tanpa disengaja Rami menoleh ke belakang, ke arah musholla. Sepintas tadi ia merasakan sedikit perasaan tak enak. Terlihat karpet hijau yang menutupi seluruh lantai musholla. Namun, samar-samar, terlihat sesuatu di atas karpet tersebut. Tak terlihat jelas, karena keadaan musholla yang gelap. Lampunya tak menyala, hanya diterangi oleh sedikit cahaya dari koridor.
Benda yang dilihat Rami memang tak jelas, namun Rami yakin itu adalah benda yang cukup besar. Perlahan ia mematikan air keran, dan meninggalkan tempat wudhu dalam kesuniyan. Pelan-pelan ia berjalan ke arah musholla, berusaha tak mengeluarkan suara langkah kaki telanjangnya. Semakin dekat dia dengan pintu musholla, semakin tampak jelas apa benda yang tergeletak itu. Kaki. Kaki seseorang. Bagian paha dan betis. Rami melihatnya.
Apakah itu orang yang sedang tidur? Siapa orang yang tidur di musholla restoran besar macam begini?
Benak Rami bertanya-tanya. Dia tak akan heran jika saja ini adalah masjid atau musholla di sebuah pusat perbelanjaan. Banyak orang tidur-tiduran di sana tak mengherankan. Tetapi, ini restoran. Lagipula, perasaan tak enak apa ini? Sebuah perasaan yang mengganjal sejak Rami mendekati musholla sebelum ber-wudhu tadi. Ada yang tak beres di sini.
Rami memberanikan diri melongok masuk ke musholla. Bagian lain tubuh manusia itu terlihat. Tubuh seorang laki-laki tergeletak, dengan posisi miring ke kanan persis seperti orang tertidur. Tangan kanan pria itu menumpu kepalanya, dan tangan kirinya berada di belakang punggung. Tak akan ada yang tahu bahwa laki-laki itu telah meninggal kalau saja Rami tak melihat matanya yang terbelalak terbuka. Dari mulutnya keluar busa, dan dari hidungnya terlihat sedikit darah mengering.
Mayat. Pria ini tewas. Rami bingung, apa yang harus dilakukannya?
******
Sudah selesai. Begini saja kisahnya. Saya sendiri bingung mau melanjutkan seperti apa.
Tahu-tahu saja saya dapat inspirasi ketika saya sholat di sebuah restoran beberapa waktu lalu. Suasananya mendukung sekali, dengan pencahayaan musholla yang buruk. Suasana gelap memuramkan suasana.
Kopdar di hari selasa, 3 juli 2012.
Terlambat sekali ya, saya baru nge-post hari jumat… Jadi, saya hanya berikan foto-fotonya.
Foto-foto yang tampil di posting-an ada yang saya ambil dari hasil fotonya Teh Dey dan Teh Nchie.

Peserta kopdar, dari kiri atas ke kanan bawah adalah saya, Bang Eduard, Mas Ardi, Mbak Titi, Teh Erry, Teh Dey, Yuli, Kang Ade, Kang Yayat, Pakdhe Cholik, Teh Nchie, dan Mbak Meti.
Seperti biasa, setiap ada kopdar di Bandung, pasti ada Teh Dey dan Teh Nchie selaku penyelenggara.
Kali ini Teh Erry bisa datang, yang habis dari Korea Selatan. Tentunya ada Bang Eduard dan Kang Ade. Ada juga Mbak Meti dan Mbak Titi, narablog yang baru saya temui. Tokoh utama yang seharusnya, Mas Ade Girie, malah nggak datang.
Saya kaget, ternyata ada Mas Ardiansyah P. Darwis. *namanya sengaja dipanjangin* Pakdhe Cholik “Galaxi” juga datang menggantikan Mas Ade. Di tengah kopdar, datanglah Kang Yayat, narablog yang ternyata pernah lama tinggal di Surabaya. Alhamdulillah, Yuli Jannaini bisa datang.
Seharusnya, kopdar kali ini bisa jauh lebih ramai kalau Dian Sastro, Grini, Bang Hahn, Bang Aswi, dan Bang Keven datang…
Lokasi Kopdar

Lokasi kopdar di Rumah Makan Ampera Jl. Soekarno Hatta. Sebut saja Ampera Rancabolang.

























Recent Comments