Mengantuk. Itu. Nikmat.
Rasa kantuk ini —di tengah-tengah lembur ngerjain tugas— patut disyukuri. Kantuk adalah tanda bahwa tubuh kita masih bekerja normal. Dengan kantuk, tidur akan terasa nikmat. Dengan kantuk, jadi ada alasan untuk minum kopi.

Rasa kantuk ini —di tengah-tengah lembur ngerjain tugas— patut disyukuri. Kantuk adalah tanda bahwa tubuh kita masih bekerja normal. Dengan kantuk, tidur akan terasa nikmat. Dengan kantuk, jadi ada alasan untuk minum kopi.

Saya baru merasakan akhir-akhir ini bahwa ternyata facebook bisa jadi ladang hiburan yang cukup menarik.
*jangan sebut saya ketinggalan zaman*
Selama ini saya nggak pernah berlama-lama di depan facebook. Saya hanya sekadar mengecek akun saya untuk melihat notifikasi, pesan, atau permintaan pertemanan yang masuk.
Saya benar-benar nggak bisa merasakan nikmatnya memainkan berbagai aplikasi di facebook, nge-troll1 status orang, atau stalking2 gebetan. Eh nggak juga ding, saya kadang jadi stalker juga…

Nah, baru saja saya nge-facebook cukup lama, mencermati3 status teman-teman saya, bahkan melihat status teman dari teman saya. *benar-benar nggak ada kerjaan* Saya menemukan status yang cukup lucu (setidaknya bagi saya), isinya mengenai berita nasional yang masih panas, yang masih gencar diberitakan di media akhir-akhir ini. Tanpa ragu saya ambil cuplikan gambarnya.
Bulan januari telah berakhir. Komitmen atau tantangan pada diri sendiri yang dulu pernah saya canangkan pada tanggal 11 januari lalu telah berhasil saya laksanakan.
Di posting-an tanggal 11 sebulan lalu itu saya berikrar bahwa selama bulan januari saya akan selalu posting dua hari sekali, setiap tanggal ganjil. Selain untuk mengurangi konsep posting-an (draft) yang numpuk di dasbor blog, saya juga pengen lihat seperti apa traffic yang saya dapatkan kalau nge-post setiap dua hari. Dibandingkan dengan nge-post setiap tiga hari —seperti yang biasa saya lakukan, ternyata jumlah pengunjung yang datang (ke blog ini) nggak jauh berbeda.
Ternyata juga, yang terjadi adalah, konsep posting-an saya malah bertambah, bukannya berkurang.
Ide posting-an terus menerus datang, termasuk foto-foto kucing yang bisa saya tampilkan di sini.
Tetapi, banyaknya draft posting-an nggak akan membuat saya nge-post setiap hari, atau malah beberapa kali dalam sehari. Itu nggak sesuai dengan prinsip saya.
Syukur alhamdulillah, ternyata kalau memang ada banyak ide mau menulis seberapa seringpun bisa.
*saya baru tahu*
Untuk bulan februari ini, saya nggak mau bikin patokan posting lagi, karena saya merasa bulan ini dan bulan maret depan akan merepotkan saya. Jadi, kemungkinan saya akan kembali seperti dulu, nge-post setiap tiga hari.
*tanpa paksaan dan tekanan*
Yuk mari, sekian laporan saya untuk awal posting-an bulan februari ini. Barangkali narablog sekalian ingin menantang diri sendiri dengan cara seperti yang saya lakukan?
#1 Homo Semua

Waktu itu kampus kami sedang akhir semester ganjil. Batas akhir pengumpulan tugas dan UAS (Ujian Akhir Semester) mengintai. Adik saya dan teman-teman kelompoknya sedang diskusi menyelesaikan tugas kuliah di paviliun kami. Mereka ada di kamar adik saya. Pagi hari, keadaan mereka benar-benar kacau, belum tidur semalaman.
Adik : “Aduh, ngantuk nih… Mandiin dong…” <bicara ke temannya>
Teman 1 : “Ah, homo kau…” <orang batak>
Adik : <mikir> “Berarti anak kecil homo semua ya?”
Teman 1 : “Haah??” <agak bingung>
Adik : “Iya, homo dong, ‘kan dimandiin ama bapaknya…” <ketawa>
Teman 1 : “……”
(“Ini” dan “itu” ya beda dong…
)
Akhirnya, headphone saya yang dulu saya ceritakan sempat “sakit”, sekarang sudah kembali “sehat”.
Bulan juli tahun lalu, di posting-an itu, saya cerita bahwa headphone Sennheiser PX-100 satu-satunya milik saya tidak nyaman lagi dipakai. Bukan rusak, tidak. Masih jalan 100%, hanya aja kualitas suara menurun, karena busa (earpad) di bagian speaker-nya hilang. Hilang alias habis karena memang sudah waktunya.
Maklum, sudah 2 tahun lebih itu headphone saya pakai.
Ini foto headphone sebelum busanya diganti.

Berkat info dari seorang teman, saya jadi tahu ternyata di BEC (Bandung Electronic Center) ada yang jual itu busa. Nama tokonya Warung Gadget, dan saya dapatkan earpad-nya dengan harga Rp. 150.000,00.
Yuk lihat kelanjutan pengalaman saya!
Hari sabtu (21/1) ini cukup melelahkan. Melelahkan yang menyenangkan. Bertemu orang-orang di dunia maya secara langsung. Kopdar!
*kopi darat* Terakhir kali saya kopdar itu waktu dulu Bu Monda datang ke Bandung, hari minggu (9/10) bulan oktober lalu. Saat itu saya pertama kalinya bertemu Teh Dey (bersama suaminya) dan Mas Puji “Jier”.
Bagaimana nggak menyenangkan sekaligus melelahkan, lha wong saya nongkrong terus di Ngopi Doeloe dari jam setengah sebelas sampai jam lima sore…
Jadi, kopdar hari sabtu ini bagi saya sama seperti kopdar dua kloter.
Lokasi kopdar di Ngopi Doeloe Jl. Teuku Umar, sesuai saran Kang Ade.

Kami semua tadi total berjumlah sepuluh orang. Ada empat orang narablog yang baru saya temui pada kopdar kali ini. Mereka adalah Mbak Irni, Bang Keven, Bang Eduard (panggil aja Edo), dan Bang Argun “Firaun Ngeblog”.
Sisanya, lima orang, saya udah pernah kopdar dengan mereka. Mereka adalah Kang Ade, Teh Nchie, Teh Erry, Teh Dey, dan Mbak Isma.
Sayang sekali, di saat-saat terakhir Bang Aswi nggak bisa datang…
Inilah wujud mereka.

Mbak Irni Irmayani, dia adalah tokoh utama kopdar kali ini.
Kopdar kali ini ada karena Mbak Irni, untuk menyambut Mbak Irni. Jauh-jauh dari Pontianak ada tugas dinas di Bandung, tentu kopdar nggak boleh dilewatkan.
Yuk ah, lihat tokoh-tokoh lain…
Ah! Aku ingat sekarang! Waktu itu, sesosok makhluk muncul begitu saja di depanku. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu saja dia muncul!
Aku sedang mengendarai mobil di tengah hujan deras. Jarak pandang tak terlalu jauh. Lalu, makhluk itu muncul di tengah jalan! Entah makhluk apa itu, aku tak bisa mengingatnya. Menghindari makhluk itu, aku banting setir ke kanan, ban mobilku selip, dan entah bagaimana kejadiannya, mobilku terbalik. Terbalik berkali-kali, aku terguncang-guncang di dalamnya, merasakan tubuhku remuk redam. Masih ada lanjutannya…
Recent Comments