Aaaaaah, saya merasa sebulan terakhir ini sangat bergairah. Entah kenapa, rasanya semangat begitu menggebu-gebu. Semangat apa? Entahlah, berbagai macam, pokoknya saya merasa diri ini bersemangat.
Tubuh ini rasanya fit banget, bugar Bahasa Indonesianya. Yap, punya tubuh sehat rasanya amat menyenangkan. Tunggu… tapi… sehat belum tentu bugar!
Sehat, menurut KBBI daring, adalah “baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dr sakit)”. Kalo bugar, menurut sumber ini, adalah“….suatu kondisi fisik seseorang yang dapat melakukan aktivitas dengan beban tertentu dan bertingkat tanpa mengalami kelelahan berarti.” Nah, bisa diartikan bahwa seseorang yang sehat belum tentu bugar, karena kebugaran hanya bisa didapat dari kegiatan olahraga yang teratur. Sedangkan kalau seseorang bugar, kemungkinan besar dia sehat.
Awal Mula…
Dulu, awal kuliah, saya mulai kepikiran, saya nggak puas dengan tubuh saya. Pikir saya, “Masa’ tubuh cowok kayak gini sih…” Ya, harus diakui, saya yang dulu jarang berolahraga. Sangat jarang. Setelah ada mata kuliah olahraga di semester 1 dan 2, frekuensi saya olahraga jarang sekali. Bisa dibilang tubuh saya lemah. Stamina nggak begitu bagus. Bodohnya, hal itu saya biarkan sampai kira-kira tahun 2009. Saya lupa saya dapat inspirasi dari mana waktu itu, tiba-tiba saya ingin mulai punya tubuh yang “kuat”, tubuh yang nggak gampang capek. Nggak mudah capek inilah yang saya artikan sebagai “kebugaran”. Setelah saya baca-baca majalah kesehatan dan pikir-pikir, memang benar, saya yang jarang olahraga waktu itu gak bisa berharap punya tubuh bugar. Nah, dengan motivasi ingin punya tubuh kuat dan bugar itulah, sekitar akhir 2009 saya mulai membiasakan diri berolahraga.
Saya sadari juga, saat itu cara makan nggak teratur. Maklum lah, mahasiswa perantauan antarkota, yang pastinya ngekos.
Jam makan nggak pasti, terutama untuk makan siang. Kalau ada kuliah siang-siang, terpaksa makan siang tertunda. Perut kosong, laper, akhirnya pas dapet waktu makan jadi gelap mata. Nutrisi dari makanan pun juga bisa dibilang gak seimbang. Namanya “porsi mahasiswa” (atau “porsi kuli”), kebanyakan warung atau kantin pasti memberi asupan nasi yang bejibun, tapi nggak pada lauknya.
Kebanyakan karbohidrat, tapi nutrisi lain kurang. Cara makan inilah yang membuat perut saya membuncit.
Massa badan saya sempat mencapai 69 kilogram waktu itu. Bayangkan, bobot badan segitu, dengan tinggi saya (yang diukur menggunakan meteran penjahit) 164 cm, ber-indeks massa tubuh (BMI) 25,654. Indeks Massa Tubuh atau Body Mass Index adalah sebuah perhitungan untuk mengetahui apakah bobot tubuh kita ideal atau tidak. Dengan kata lain, dengan indeks ini, kita bisa tahu apakah bobot tubuh kita ini sudah pas, masih kurang, atau berlebihan (bahkan obesitas). Nilai indeks saya itu menandakan bobot tubuh saya berlebih, karena nilai yang ideal ada di kisaran 18,5 dan 24,9. Pendorong atau motivasi saya bertambah satu lagi, saya ingin punya bobot tubuh ideal!
*kalo mau hitung BMI di sini!*
Nah, semenjak akhir 2009 itulah, saya mencoba menjaga asupan makanan saya dan mengatur kegiatan olahraga. Saya rasakan kebugaran ini berkat tiga hal. Tiga hal dalam versi saya (karena dari beberapa sumber yang pernah saya baca mengatakan bahwa kebugaran hanya ditentukan oleh olahraga aja). Mengatur pola makan, olahraga, dan istirahat yang cukup. Eh, Empat poin sih, kalau tidak merokok diikutsertakan juga.
Mari lanjut baca tulisan saya…
-6.914744
107.609811
Like this:
Like Loading...
Recent Comments