22
Mar
11

Tampilan Sampul Novel yang Kurang Pas

Pernah lihat novel berjudul “Habiburrahman El Shirazy”? Ada lho. Ini buktinya. :lol:

Desain layout atau tampilan novel ini kurang bagus, kurang pas. :(  Saya, yang nggak punya latar belakang pendidikan desain, pun merasa nggak sreg, ada yang salah dengan tampilan depan buku ini. Harusnya, yang ditulis besar-besar dan tampak mencolok adalah judul novelnya, jangan nama pengarangnya! :lol:  Aduh, saya takjub (dalam tanda petik) dan geli pas lihat novel tersebut. Kok bisa ya, judul cerita dan pengarang berlomba besar-besaran ukuran. :mrgreen:

Apa ya tujuan si pengatur tampilan novel ini? Apakah ia bermaksud mempromosikan nama Kang Abik? Saya rasa nggak usah dipromosikan dengan cara penulisan yang besar pun nama Kang Abik udah terkenal. Saya rasa nggak masalah nama pengarang ditulis kecil, karena orang-orang tanpa disuruh pasti akan melihat dengan teliti ketika di toko buku. Sebagai contoh saya sendiri. Ketika saya menemukan judul novel yang tampak menarik, saya akan mengangkatnya dari tumpukan, dan mencari tahu nama pengarang secara otomatis. Nggak perlu lah nama pengarang dibuat besar-besar. Justru di sinilah harusnya si pengarang memberi judul semenarik mungkin, yang mencolok, yang bisa mengundang minat calon pembeli, bahkan cenderung kontroversial. Begitu lebih baik. :)

Saya penggemar karya-karya Kang Abik, saya punya semua novelnya (kecuali buku yang saya bahas di sini), sama sekali nggak ada maksud menjatuhkan Kang Abik di sini. :oops:  Saya harap ini bisa menjadi masukan dari seorang penggemar novel, untuk sang layouter sampul tentunya. :)

*

Ada yang punya pendapat lain? Bantahan, atau tanggapan?

——————————————————————————————————————————————————

Semua gambar adalah hasil jepretan sendiri. Seluruh terbitan ini beserta gambar-gambarnya sangat dilindungi, jadi sertakan alamat tautan dan nama pemilik blog jika ingin menggunakan sebagian ataupun seluruh bagian terbitan ini.
About these ads

136 Responses to “Tampilan Sampul Novel yang Kurang Pas”


  1. 22 March 2011 at 00:38

    saya udah bosen dengan gaya kang abik…sejak ada sinetronnya… =P

  2. 22 March 2011 at 00:50

    (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Bikin sampulnya kan emang dengan tujuan menjual nama besar Sang Pengarang

    • 22 March 2011 at 09:29

      Itu yang saya gak setuju, harusnya besarkanlah tulisan judul bukunya, jangan nama pengarangnya! :mad:

      • 8 haris
        30 March 2011 at 10:59

        gimana kalo dua2nya aja digedein tulisannya. soalnya ada lho mas, pembaca seperti saya yang kadang2 melihat sebuah karya berdasarkan nama besar pengarangnya. :)

        buku itu bisa populer lantaran dua hal: memang isinya menarik atau pengarangnya sudah terkenal. nama pengarang dengan sendirinya bisa dijadikan jaminan bahwa tulisan-tulisan yang dia buat layak dibaca.

        untuk buku yang isinya menarik, tapi nama pengarangnya belum dikenal, judulnyalah yang ditulis dengan huruf besar. seperti sampul novel kang abik sebelum dia terlanjur terkenal dulu, ayat-ayat cinta. ini berlaku juga untuk buku yang karakter novelnya lebih terkenal ketimbang pengarangnya, seperti harry potter atau einstein’s dreams.

        sementara untuk buku-buku yang pengarangnya sudah punya nama, yang paling lazim ditulis dengan ukuran huruf yang lebih besar adalah nama pengarangnya, seperti sampul bukunya david sedaris. atau seperti jonathan safran foer yang judul dan nama pengarang ditulis dengan ukuran yang hampir sama.

        jadi sebenarnya tidak aneh kalau nama pengarang ditulis lebih besar ketimbang judul. yang menurut saya aneh dengan sampul buku di atas justru adalah judulnya: ‘the romance’ atau ‘dalam mihrab cinta’? setau saya sih dalam mihrab cinta, tapi kok? ..

        • 30 March 2011 at 20:59

          Hoaaaaaaa makasih komentarnyaaaa!

          Saya senang sekali ada yang memberikan kometar panjang!

          Nah, bingung juga ‘kan, ini judulnya “The ROmance” atau “Dalam Mihrab Cinta”?

  3. 22 March 2011 at 01:01

    Kalau saya selain lihat judul, juga lihat ringkasan cerita, kemudian beberapa halaman manuskrip di dalamnya, gaya bahasa, dan adakah sesuatu yang unik yang bisa saya dapatkan? Kalau biasa-biasa saja, ya sudah saya lewatkan, meski pun pengarangnya terkenal :).

    I used my chemistry to find a suitable book for me, dan sering kali malah kemudian saya baru tahu kalau pengarangnya memenangkan pelbagai penghargaan kelas dunia, karena kadang pengarang sekelas itu tidak akan mencantumkan embel-embel ketenaran, mereka lebih suka pembaca membeli buku-nya karena memang tertarik dengan isinya, bukan karena dicap dari pengarang terkenal atau best seller dan sejenisnya :).

    • 22 March 2011 at 09:36

      Seandainya buku yang saya incar gak berbungkus dan di dekat saya gak ada tulisan “membuka bungkus berarti membeli”, saya bakal lihat2 halaman dalamnya. :)

  4. 22 March 2011 at 04:33

    hahaha pengarangnya narsis kali… :P

  5. 22 March 2011 at 06:30

    iya yah knp nama pengarangnya yang hurufnya besar2 hehe

  6. 22 March 2011 at 07:09

    seperti biasa ingin numpang kesuksesan nama besar kang abik…

  7. 22 March 2011 at 07:37

    asumsi saya sebagai orang awam bukan penggemar novel Kang Abik (karena saya juga penggemar Kang Abik :oops:)
    Mungkin si penerbit pengen supaya begitu orang ngeliat buku itu yang diliat adalah bahwa buku itu karangan kang Abik, sehingga si orang awam tadi tanpa pikir panjang bisa langsung meletakkan buku tersebut ke dalam keranjang belanjaannya karena dah tau kalo kang Abik itu pengarang novel best seller, gitu kali ya???

    tapi emang aneh sih layoutnya!

  8. 22 March 2011 at 08:26

    cocok Sop. kesan pertama yg ditangkap, kenapa nama penulis ditulis tebel?
    mungkin krn penerbitnya belum terkenanl kali ya ?

    jd dia ngejar duit agar laku
    “Ini Lho Novel Karya Habiburrahman..”

  9. 20 lambang
    22 March 2011 at 08:33

    Setuju dengan pendapat anda sop. Saya aja baru menyadari akan keanehan itu, hehe.
    (dari pada rame-rame lebih baik seluruh font besarnya di sama’in wae. hoho)

  10. 22 March 2011 at 09:36

    mungkin tujuan desaingner nya hendak menjual nama besar penulis..

    tapi saya lebih setuju dgn pendapat kang asop..
    biasanya ngeliat judulnya dulu, baru penulisnya.

  11. 22 March 2011 at 09:38

    Wah.. Norak banget yah!
    Saya sih belum liat bukunya langsung. Tapi di liat dari gambar diatas udah kelihatan aneh banget!
    Rasanya logo BestSeller itu aja udah cukup mewakili ketenaran kang Abik, gak perlu sampe pake Tulisan segedek itu.. Huh.. Kesannya jadi murahan..!!
    *gak tertarik membacanya… :lol:

    • 22 March 2011 at 12:56

      Iya! Benar sekali! Murahan! Kesannya jadi murahan! :D :D :D
      Itulah isitlah yang saya cari2 tapi gak muncul2 di kepala saya… :mrgreen:

  12. 22 March 2011 at 12:37

    Eh emang judulnya yang mana ya Sop :mrgreen:
    Hmm, sepertinya ini yang dinamakan celebrity book, alias lebih menjual nama pengarang daripada judul buku. Eh, saya jadi ngarang istilah sendiri. Hehehehe.

    • 22 March 2011 at 12:55

      Nah, tuh bingung kan? :lol:

      Saya awalnya lihat buku itu ngira judulnya “Habiburrahman El Shirazy” lho. :|

      • 26 lovetiffa
        25 March 2011 at 19:30

        Saya juga awal lihat mengira itu buku bercerita tentang Habiburrahman El Shirazy, semacam biografi gitulah, pas baca postingan Asop baru tahu kalau itu sebuah novel karangan beliau.

        Saya termasuk maniak dengan buku karangan Ippho Right Santosa, dan saya salah satu penggemar beratnya, kagum dengan tulisan dan perjalanan hidupnya utk meraih kesuksesan, jadi tanpa melihat judul apabila pengarangnya Ippho, saya akan usahakan membeli buku tersebut. Kadang judul yang menarik bisa sangat menipu pembeli, saya pernah bahkan mungkin sering beli buku dgn judul bagus tp stlh sampai kos, membuka plastik, dan membacanya ternyata isinya “ga bngt”.

        Mungkin penerbit melihat pangsa pasar sprti itu, jd yg ditonjolkan adalah pengarangnya bkn bukunya.

        *hanya pendapat dr saya sj.* :oops: panjang bener komennya.

  13. 22 March 2011 at 13:51

    Wahahah, emang berlebihan tuh kalau kayak gitu. Idealnya kalaupun pengen menonjolkan nama pengarangnya, kasih maksimal 1 baris aja. Jadi judulnya tetap mencolok, nama pengarangnya juga keliatan jelas. Kalau kayak gini kesannya yg pengen dijual cuma nama besar penulisnya, tapi cerita yg ingin ditawarkan novelnya sendiri malah ‘disembunyikan’ :D

  14. 22 March 2011 at 14:36

    setuju sama ente brother
    tampilan layoutnya kurang pas tuh

  15. 22 March 2011 at 17:53

    hahahhaha.. bukunya ga dijual, yg dijual pengarangnya..

    endorsementnya itu ga nahan.. STRONG oy..

  16. 22 March 2011 at 18:28

    ooh ada buku baru lagi ya, produktif juga nih. saya udah gg begitu update buku beliau, kisah cinta mulu agak bosen *yah meskipun banyak pelajarannya*. Tiara setuju dengan memilih buku pada pandangan pertama pada judulnya. judul kan menggambarkan keseluruhan cerita ya.

    • 22 March 2011 at 21:08

      Hehehe, iya sih, tapi pelajaran yang bisa diambil buanyak banget. :mrgreen:
      Saya suka karena saya bisa belajar banyak dari sana. :oops:

  17. 22 March 2011 at 18:37

    Kalo menurut saya sih… ini cuman strategi dari penerbitnya, Sop. Biar jumlah orang yang baca buku Kang Abik nambah.

    Logikanya kayak gini:
    Nama kang Abik kan udah tenar dan punya penggemar sendiri yang mungkin jumlahnya harus dihitung pake kalkulator ato komputer. Kang Abik kan pasti terus berkarya. Penggemar biasanya sudah pasti beli buku penulis idolanya. Nah, sekarang penerbit sudah tidak memperhitungkan lagi penggemar-penggemar itu. Yang jadi incaran adalah mereka yang masih penasaran ato cuma dengar dikit-dikit tentang karya Kang Abik. Dengan font yang gedhe kayak gitu, dijamin sambil merem pun mereka tahu harus kemana untuk menemukan buku Kang Abik.

    Tapi secara naluri dan nurani, saya juga nggak suka sih sama layout yang kayak gitu. Nanti kalau saya udah bisa nerbitin buku (Amin), saya harus intens komunikasi sama layouternya biar font nama saya nggak lebih besar dari tubuh saya. wkwkwkwkwk

  18. 22 March 2011 at 19:32

    iya yah bener juga, baru ngeh… biasanya emang judul dengan kata2 yang catchy, font nya harus lebih besar.. Dan biasanya karya2 terkenal, nama pengarangnya cukup ditulis kecil2, seakan2 sang maestro ini nggak butuh pujian, hanya karyanya yg berbicara, sooo coool…

    btw, sama2 penggemar nikon nih… salam kenal yah.. :-) gile foto2nya keren2, belajar dmana? salah klo mau tanya2 boleh ya… :-)

    • 22 March 2011 at 21:21

      Hehehe, entahlah apakah saya pantas disebut sebagai “penggemar NIKON”… :D
      Saya kebetulan aja dekat dengan orang2 pemakai Nikon, makanya saya naksir merek yang satu itu. :mrgreen:

      Saya belajar dari banyak sumber di internet. Bisa dari video youtube (tinggal telusur aja trik2 fotografi), dari blog-nya Gavin Hoey (fotografer dari Inggris), bahkan dari situs photography school. :D
      Saya justru banyak banget baca2 tentang fotografi dari situsnya Nikon sendiri, di sini tepatnya, banyak banget tutorial2 untuk pemula. :)
      Di situs video Vimeo juga ada cukup banyak video tutorial untuk kamera Nikon. ;)

  19. 22 March 2011 at 19:33

    btw, ijin yah, photoblog nya aku taro di blog ku, tengkyu.. :-)

  20. 22 March 2011 at 20:13

    wahaha,, saya udah liat lama buku ini, tapi ga kepikiran sampe kesitu2nya..
    detil banget yah :mrgreen:
    diantara buku2nya kang abik, memang rasanya cuman AAC yang “nendang” sampe rela begadang mengkhatamkannya :D yang lainnya,, yah.. gitu deh
    buku ini juga sy blom baca *gadayangnanya* :lol:

  21. 22 March 2011 at 23:07

    Mungkin tujuannya biar lebih mudah dikenali lagi, karena pengamatan saya karya orang satu ini tidak ada judulnya pun laku. Karena namanya jaminan mutu! he he he.

  22. 23 March 2011 at 16:12

    eh iya yah…dan sepertinya sebagian besar bukunya emang yg ditonjolkan adalah namanya bukan judul nya (cmiiw) :)

  23. 23 March 2011 at 16:45

    Ngegedein nama pengarang = Ngejual ‘nama’ pengarang = Jual kang Abik-nya ??? :shock: :lol:
    heem saiia sih emang kurang suka novel-novel begini, Mas.. jadi ngga pernah ngelirik rak-rak bagiannya kalo lagi di toko buku :D

  24. 23 March 2011 at 18:06

    mungkin memang ingin mengangkat nama penulisnya mas, kali aja dengan teknik itu nama penulis akan dikenang, dan dinantikan tulisan berikutnya dg catatan ” Buku itu bagus ” dan dinantikan seri berikutnya, namun jika ternyata tidak seperti yang diharapkan, bisa jadi menjadi bumerang.

    • 23 March 2011 at 21:39

      Haha, menurut saya sih gak bisa gitu. Harusnya bikin judul yang menarik, yang kontroversial. :D Jadi yang menarik perhatian calon pembeli itu jangan nama pengarangnya, tapi judul bukunya.

  25. 23 March 2011 at 22:17

    Kalau saya pikir sih, tidak usah banyak trik marketing..
    Semua sudah tahu kualitas Kang Abik, enggak perlu ditambah-tambahi, malah jelek..

  26. 59 bintang
    24 March 2011 at 08:16

    mungkin dia pikir,
    kalo semuanya gede,
    bisa segede papan bukunya. :lol: :lol:

  27. 24 March 2011 at 08:25

    Aslinya daku kira itu nama malah judul novelnya. Ternyata bukan. Daku punya buku berjudul “Blink” yang judulnya 1 itu saja besar banget. Jadi malah mencolok dan menarik perhatian. Akhirnya terbeli lah buku itu walau pun sampe skrg belum daku baca. Hihihi

    Salam

  28. 24 March 2011 at 09:06

    sepertinya itu udah takut tersaingi popularitasnya oleh penulis yg lain…makanya ditulis gede banget, sampai judulnya dinomor duakan :mrgreen:

  29. 24 March 2011 at 10:22

    Ini kan salah satu teknik marketing dengan memanfaatkan nama besar sang penulis novel. Saya rasa sah-sah saja sih, namun terasa kurang pas kalau dipandang.

  30. 24 March 2011 at 11:16

    setuju namanya kegedean itu ya sop
    apakah ceritanya menarik?
    hehe

  31. 24 March 2011 at 12:01

    Sebagai pemikat kostumer yah

  32. 24 March 2011 at 12:02

    Aw>>>> Aw>>>> Tertangkap si Aki Kang Asop :D

  33. 24 March 2011 at 12:53

    Mungkin kang habib udah dianggap ‘superbrand’ :mrgreen: btw gimana isinya? Kan ada pepatah dont judge book by its cover :-)

  34. 24 March 2011 at 13:04

    selamat siang, tanpa memihak siapa pun :| saya kira buku itu memang menjual nama eh salah namanya kang abik memang menjual.

  35. 24 March 2011 at 13:53

    Assalamualaikum bang Asop.

    Juur bang,,,bukan cuma masalah font aja…

    Gradasi warna pn bagi saya kurang menarik (sok tahu.com). Serasa bosenin ngonoh lho…gak tahu kenapa..kenapa ya novel2nya kang Aik keseringan pake warna oranye, merah, atau yg berasa merah kuning gitu….

    One of the best cover layout is tetralogi LP. Hp juga….Semuanya great kopernya. Hahahha

    Hehehehe

  36. 76 jarwadi
    24 March 2011 at 14:02

    Saya juga ngga bakal tertarik membeli novel dengan sampul seperti itu, ya tidak suka saja, hehehe

  37. 24 March 2011 at 14:43

    bener2 ga enak dilihat… terlalu banyak tulisann, kesan pertama : lebayyy dehh hehe

  38. 24 March 2011 at 14:45

    Saya novel kang Abik cma 2, ketika cinta bertasbih sama ayat2 cinta doank..hehe (eh bener gak)

    soalnya saya gak suka baca novel tebel..hihi

  39. 24 March 2011 at 15:36

    ha kalok saya mungkin malah mikir itu novel judulnya Habiburrahman El Shirazy

  40. 24 March 2011 at 15:58

    kalo saya melihatnya, tujuannya sudah pasti menjual nama pengarangnya,,
    cuma judulnya yang terlalu jauh kebawah jaraknya. naik dikit lagi,, kayaknya ga bakal terlihat aneh,, tapi ga tau juga, saya bukan ahlinya disini :)

  41. 24 March 2011 at 15:59

    Ya, saya juga begitu. Judul dulu yang utama, kalau menarik minat pasti kita ambil bukunya.
    Itu untuk apa tarok nama si dude di situ, emg ngaruh gitu ya?

  42. 24 March 2011 at 16:58

    Inilah kesalahan kang Abik… Harusnya yang ditulis besar itu jangan namanya, tapi namaku “TonyKoes” ini nama membawa hoki…. :D hahaha

    Memang sih.. kita kalo melihat Buku/Novel tentulah yang kita lihat adalah “Judul” kemudian lihat bandrol “Harga ” baru lihat Sinopsis (Ringkasan cerita atau apa eta naminyalah, abdi poho oe…) baru kita melihat nama Pengarang dan terakhir kalo sempat lihat juga Penerbitnya…Baru yang terakhir “Kira-kira apa manfaatnya ” kalo aku beli buku/novel ini… :)

  43. 86 Mbah Jiwo
    24 March 2011 at 17:27

    Justru karena Kang Abik besarlah mungkin namanya ditulis besar, agar menarik pembaca. Karena judulnya tidak populer. Atau tidak sepopuler sebelumnya.

    Entahlah, ngga pernah mikirin yang begini. Asop jenius!

  44. 24 March 2011 at 18:09

    mantap!
    mungkin biar nama kang abik terlihat mencolok. Biar kelihatan dari jarak 100 Menter. Trus orang akan terpana lalu mendekat untuk menilik lebih lanjut. Strategi marketing penerbit kali yak. :mrgreen:

  45. 24 March 2011 at 19:34

    saya defensip aja sob

  46. 94 mamah Aline
    24 March 2011 at 19:35

    nama pengarang jadi seperti judul novel kalau penempatannya dan font huruf besar seperti itu ya.
    Mungkin maksudnya menitikberatkan pada nama besar habiburrahman elshirazy agar menarik minat pembaca, tapi jadinya bikin aneh

  47. 24 March 2011 at 20:03

    well….don’t judge a book with its cover…

  48. 24 March 2011 at 20:30

    jd yg salah kang abik atau yg mendesain covernya? ;)
    mungkin itu srategi marketing kali biar bukunya cpt laku….hehehe
    saia siyh gak terlalu mempersalahkannya krn kbtulan kang abik bkn novelis favorit saia… :D

    • 25 March 2011 at 11:34

      Lah, yang ngedesain dong. :D Gak tahu lagi kalo ternyata Kang Abik sendiri yang mendesain sampulnya lho ya. ;)

      Saya tetap suka novel2 karangan Kang Abik, tenang aja. :mrgreen:

      Tetep aja, hal ini membuat saya geram. :mad:

  49. 100 Fikriyansyah
    24 March 2011 at 22:40

    tu judulnya kang abib atau the romance atau mihrab cinta y? jd bingung…

  50. 24 March 2011 at 22:57

    ah biasalah kalau sudah punya nama besar, yang kecil aja diomongkan

  51. 25 March 2011 at 14:51

    banyak juga buku novel atau roman yg penah saya baca dan beli,sesungguhnya juga yg lbh dicetak tebal si penulisnya. seperti dalam beberapa buku lama/jadul NH Dini, seno gumiro,dll :)

  52. 106 Windya MuLia
    25 March 2011 at 16:25

    aku gi baca bumi cinta :)

  53. 25 March 2011 at 16:35

    Aku menyukai novel-novel reliji, benar… tapi entah kenapa waktu disodorin novel Kang Abik, trus baca sekilas-sekilas, nggak ada sama-sekali hasrat buat menamatkan cerita. Susah kujelaskan dengan kata-kata, kenapa aku kurang menyukai novel-novel karya Kang Abik.

    Maaf ya, Mas, komenku ke luar jalur, aturan yang kukomentari sampulnya ya? :-)

    • 25 March 2011 at 18:27

      Mungkin bahasanya yang terlalu kaku, ya? :razz:
      Kalo itu, saya rasa saya juga kurang sreg. Tapi, saya tetap baca, lebih banyak manfaatnya sih. ;)

  54. 25 March 2011 at 20:55

    Aha, sekarang aku udah tahu kenapa nggak sreg sama novel karya Kang Abik, yang pertama itu udah disebut Mas di atas: bahasanya emang rada-rada kaku gitu. Yang kedua ceritanya itu sendiri, terkesan klise. Ketiga, Kang Abik mengandalkan alur cerita yang serba kebetulan, contoh: si a dan si b bertemu seolah-olah ‘dipaksakan banget’ oleh pengarangnya untuk bertemu. Kelima… memang benar setiap novel Kang Abik pasti sarat dengan pesan agama, tapi cara ia menyampaikannya seakan-akan menggurui pembaca.

    O ya, Mas, salam kenal. Mampirlah ke blogku barang sejenak. Semoga kita bisa menjalin silaturahmi di dunia maya ini.

  55. 26 March 2011 at 09:38

    novel kang abik yg paling gw suka adalah pudarnya pesona cleopatra. hehehe novel kedua kang abik yg gw baca setelah ayat-ayat cinta.
    oh iya, malah gw kira judul novel yg lo bahas itu judulnya “The Romance”, ternyata “Dalam Mihrab Cinta” yah -.-’

  56. 26 March 2011 at 16:38

    pengarangnya sudah memiliki nama jual, tapi novel terbarunya belum, jadi sah2 saja bila nama pengarang ditulis besar2 :mrgreen:

    • 26 March 2011 at 17:23

      Menurut saya sih nggak… :(
      Itu malah membingungkan.
      Coba sekarang, Rio tahu nggak, itu judul novel apa, apakah “Dalam Mihrab Cinta”, “THE ROMANCE”, atau “Habiburrahman El Shirazy”? Hayoooo… :razz:

  57. 26 March 2011 at 17:38

    Justru karena Kang Abik terkenal, maka namanya yang ditonjolkan. Agar orang melihat pertama kali akan berpikiran: “Wah, novel barunya Kang Abik, nih. Pasti bagus punya. Beli, ah…”
    :D

  58. 26 March 2011 at 21:25

    mungkin ada strategi pasar mas… halah… *nyontek komen sebelah… :D

  59. 27 March 2011 at 11:20

    emang jelek kok…
    di mana mana nama pengarang itu ya kecil ajah, bukan segede alaihim gituu…

  60. 27 March 2011 at 13:09

    emm, kl ga salah, novel-bovelnya Sidney Sheldon konsep cover-nya juga begitu..
    tapi isinya bagus.. :D

  61. 27 March 2011 at 19:12

    Bisa saja sop buat orang yang belum mengenal/familiar dengan si pengarang, maka si pembaca mungkin akan langsung terkesiap / tertarik / penasaran dengan itu pengarang. mungkin :D

  62. 27 March 2011 at 21:40

    mungkin emang yang mau “dijual” adalah nama pengarangnya, karena mungkin penulis dianggap sudah punya nama…, jadi biar novel judul apapun diharapkan bisa tetep laku… :D

  63. 28 March 2011 at 06:32

    g papa mas g ngaruh katanya xixi
    ya emang kaya gitu mas penulis baru aja jarang yang majang nama penulis gede2 kaya gitu hehe

  64. 6 April 2011 at 09:59

    Sengaja digedein Sop, soalnya nama beliau udah jadi merek dagang sendiri :D

  65. 129 hidausagi
    11 April 2011 at 17:21

    iya sihh.. kalo nama pengarangnya yang besar malahan ntar dikirain itu judul novelnya.
    yang bikin layoutnya parah tuhh.. =.=

  66. 14 April 2011 at 10:57

    Kalau menurutku sampul novel seperti ini hanya menjual nama besar pengarang bukan isi ceritanya.

  67. 16 April 2011 at 14:29

    Aduh udah panjang aja komentarnya, dan saya ga kuat baca semuanya. Maaf ya sop kalo udah ada yg komen sama sebelumnya :mrgreen:

    Mirip sama poster film lah sop. Kadang yang ditonjolkan bukan bintangnya, tapi malah sutradara atau produsernya. From the director/producer of bla bla bla…

    Yang paling bikin ga sreg dari sampul buku ini adalah… seragam banget sih dengan buku-buku sebelumnya dan semua buku kang abik wanna be.

  68. 135 Galuh Lintang
    21 April 2011 at 21:50

    hahahaha…. itu kan biasa, udah sering di buku2 yang penulisnya memang udah terkenal..

    mereka menjual nama, banyak kok..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Si Empunya Blog

Siapa saya? Monggo lihat halaman "Tentang Saia..." di atas. Tinggal klik! Mau meninggalkan jejak? Monggo klik halaman "Tinggalkan jejak..." di atas. Jangan lupa, nikmatilah hidup ini. ^_^
mac.web.id

Hubungi saya di jejaring sosial

Kadang-kadang di blog ini saya menggunakan emoticon Parampaa. Silakan datang ke blog Bang Ova di sini. Dapatkan emoticon-nya di sini. HAJAR!!

Masukkan e-mail Anda di sini kalo mau dapet pemberitahuan postingan baru saya via e-mail

Join 837 other followers

Powered by FeedBurner

Saya sedang membaca ini


Tulisan Saya Berdasarkan Bulan

Arsip Tulisan

Ups, maap, kalau mau melihat arsip semua tulisan saya, lihat halaman di atas ya, yang "Arsip Tulisan" itu lho....

TIPS!

Kalo tulisan di blog saia ini terlalu kecil, monggo diperbesar. Untuk pengguna windows, tahan [Ctrl] sambil di-scroll mouse tengah. Untuk pengguna Mac, tahan [Cmd] dan tekan [+] atau [-].

Ga nyambung sih ini, bukan promosi, tapi kalo mau browser Safari, donlot di sini.

Blogroll: By Name


Abed Saragih "disave" |
Abi Harestya dan Bidadarinya |
Abu Aufa |
Abu Bakar "Bchree" |
Abu Ghalib |
Achmad Edi Goenawan |
Achoey El Harris |
Ade Kurniawati |
Adi Surya Pamungkas "bacelzone" |
Fan Adie Keputran |
Adya Ari Respati "abstractdoodle" |
Afra Afifah |
Ageng Indra |
Agry Pramita |
Agung Budidoyo |
Agung Firmansyah |
Agung Hasyim |
Agung Rangga "Popnote" |
Agung Yansusan Sudarwin |
Agustantyono |
Agyl Ardi Rahmadi |
Ahmad Musyrifin |
Akhmad Fauzi |
Alfi Syukrina |
Alid Abdul |
An Fatwa "Siho" |
Andi Nugraha |
Andi Sakab |
Andhika |
Andreas A. Marwadi |
Andrew Paladie |
Andrik Prastiyono |
Andyan |
Angga "SERBA BEBAS" |
Angga Dwinovantyo |
Anies Anggara |
Anindita |
Anistri |
Anita Rosalina |
Anto "Kaget" |
Anyes Fransisca |
Are 3DRumah |
Ari Artanto "Cah Gaul" |
Ari Muhardian "Tunsa" |
Ariana Yunita |
Arief Hartawan |
Arif "Bangkoor" Kurnia |
Arif Nurrahman |
Arif Sudharno Putro |
Ariyanti "Sauskecap" |
Arnolegsa Maupasha |
Arundati R.A. |
Aruni Yasmin Azizah |
Aryes Novianto |
Asep Saiba |
Asrul Sani |
Atha "kepompong" |
Aul Howler |
Awalul Hanafiyah "Masyhury" |
Baha Andes |
Baiq Fevy Wahyulana |
Bernadine Hendrietta |
Betania G. Rusmayasari |
Big Zaman |
Budi Nurhikmat |
Budi Prastyo "Kimbut" |
Calvin Sidjaja "Republik Babi" |
Cempaka Ariyanti |
Chocky Sihombing |
Citra "ceetrul" Hapsari |
Dadi Huang |
Danar Astuti Dewirini |
Daniel Hendrianto |
Daniel Maulana |
Deady Rizky |
Dede A. Hidayat |
Deny Marisa |
Depriyansyah Ramadhan "Iamcahbagus" |
Desita Hanafiah |
Destiana |
Desy Arista Y. |
Dewi Puspitasari |
Dewisri Sudjia "Desudija-DSK" |
Dhanika Budhi |
Dhewi Buana |
Dhimas Nugraha |
Didot Halim |
Dina Aprilia |
Dismas |
Ditya Pandu |
Doni Ibrahim |
Edda Nainay |
Efinda Putri |
Eko Ghesi Bardiyanto |
Elfa Silfiana |
Ella "Brokoli Keju" |
Erick Azof |
Erika Paraminda |
Erlin Fitriyanti |
Evan Ramdan |
Evet Hestara |
Fadhilatul Muharram |
Fahmi Nuriman |
Faisal Afif Alhamdi |
Faiza "MIDWIFE'S NOTES" |
Fandy Sutanto |
Fanny Azzuhra |
Fatra Duwipa |
Febe Fernita |
Felicia |
Ferry Irawan Kartasasmita "makhluk lemah" |
Fier "Pelancong Nekad" |
Fikri "Blue Zone" |
Fira "Fiya" |
Fitri Melinda |
Fitriyani |
Galih Gumilang "Gege House" |
Galuh Ristyanto |
Ghani Arasyid |
Gilang F. Pratama "Babiblog" |
Gitta Valencia |
Gugun "idebagusku.com" |
Gusti Ramli |
Hanif Ilham |
Hanny Aryunda Herman |
Hendrawan Rosyihan |
Hera Prahanisa |
Herni Bunga |
Herry "negeribocah" |
I Gede Adhitya Wisnu Wardhana |
Husfani A. Putri |
Ibnu Fajar "Ikky" |
Ilham JR |
Inge "Cyberdreamer" |
Intan Permata Kunci Marga |
Iqmal |
Irfan Andi|
Isdiyanto |
Ivan Prakasa |
Januar Nur Hidayanto "Yayanbanget" |
Jasmine Aulia |
Joko Santoso |
Joko Setiawan |
Juhayat Priatna |
Julianus Ginting |
Kang Ian . info |
Kang Ian . com |
Karina Utami Dewi |
Khalid Abdullah |
Khalifatun Nisa |
Kuchiki Rukia |
Lailaturrahmi Sienvisgirl Amitokugawa |
Lambertus Wahyu Hermawan |
Lerryant K. |
Lina Sophy |
Lucky DC |
Maghfiraa Alva |
Marchei |
Mario Sumampow |
Mas Ardi |
Mas Bair |
Mas Yudasta |
Mikhael Tobing |
Mirwanda |
Miswar Rasyid |
Mochammad AHAO |
Mohamad Husin |
Muhammad Abdul Azis |
Muhammad Hamka Ibrahim |
Muhammad Ihfazhillah |
Muhammad Riyan |
Muhammad Saiful Alam |
Muhammad Zakariah |
Nadia Fadhilah Riza |
Nanang Rusmana |
Nandini R.A. |
Necky Effendi |
Ninda Rahadi |
Nindy Ika Pratiwi |
Novina Erwiningsih |
Nur Azizah |
Nuri |
Perwira Aria Saputra |
Pipin Pramudia |
Pratita Kusuma |
Puji Lestari |
Pungky "PHIA" Widhiasari |
Putri Chairina |
Qori Qonita |
Radinal Maruddani |
Rahad Adjarsusilo |
Rahmat Hidayat |
Randi Rahmat |
Rasyida |
Regina |
Reisha Humaira |
Rie "Cerita Rie" |
Richie Lanover |
Rif'atul Mahmudah |
Rina Sari |
Rini Andriani "Athamiri" |
Riza Saputra |
Rizki "Hitam Putih Jingga" |
Rizki Akbar Maulana |
Ronie "Ravaelz" |
Rowman |
Rudi Wahyudi |
Ruri Octaviani |
Saipuddin Ar |
Septirani Chairunnisa Kamal |
Shafiqah Adia Treest |
Silvi Mustikawati |
Surya "Javanes" Pradhana |
Tasya Myanti |
Thyar |
Tiffany Victoria "Tiffa" |
T I W I |
Tony Koes "Macsize" |
Triana Frida Astary |
Triyani Fajriutami |
Uka Fahrurosid |
Ummu El Nurien</a. |
Upik "Pemburu Konstruksi Makna" |
Wahyu Asyari Muntaha |
Wahyu Nurudin |
Wahyu Putra Perdana |
Wendy Achmmad |
Widyan Fakhrul Arifin |
Wien Wisma |
Wildan Lazuardi |
Wiwin Siswanty |
Wiwing Fathonah Pratiwi |
Yori Yuliandra |
Yuli Anggeraini |
Zuli Taufik |
Love Tree

Subscribe in Bloglines

Powered by FeedBurner

Indonesian Muslim Blogger

I’m a Liverpudlian!



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 837 other followers

%d bloggers like this: