Kesal. Aku masih kesal dikatainya. Dasar dia sok tahu. Dasar dia sok jago.
Apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya?
Sekarang aku berada di kamar mandi. Baru saja aku selesai buang air besar, dan ini bukan rumahku. Ini adalah rumah orang yang tadi mengejekku, perkataannya sangat menjengkelkan sampai-sampai perutku mulas. Bagiku, bukan telinga yang panas, tapi perut.
Aku tak punya perkataan balasan untuknya. Oke, aku akui, dia lebih hebat dari aku. Ya, tak bisa dipungkiri.
Tak masalah, aku akan balas dendam dengan cara lain. Cara yang dia pun tak akan bisa mendeteksinya.
Kuambil sikat gigi orang itu di depanku, dari dalam gelas berisi tiga sikat gigi. Aku tahu yang mana punya dia. Jangan tanya bagaimana.
Tak pakai pikir panjang, aku jejalkan kepala sikat gigi dia ke dalam ketiakku. Aku gosokkan dengan semangat membara. Betapa senangnya hati ini, sebuah luapan kegembiaraan yang entah muncul dari mana.
Jangan lupakan fakta bahwa hari ini aku tidak memakai deodoran. Lupa. Sebagai pria dewasa seberat 94 kilogram yang punya banyak aktivitas, sebuah keajaiban sampai malam ini tubuhku belum menguarkan aroma busuk. Maaf, aku berlebihan, bukan “busuk”. Bukan berarti aku merendahkan tubuhku ini, hanya saja aku tak bisa menemukan kata yang pas.
Gerakan menggosokku sangat bergairah, sampai-sampai aku merasa apakah aku masih normal jika melakukan hal ini. Dari ketiak kanan, aku jejalkan juga ke ketiak kiri. Masing-masing ketiak harus ambil bagian dalam pembalasan ini. Aku berharap partikel-partikel keringat yang tertinggal di ketiakku terambil oleh bulu sikat yang kupegang ini.
Aku rasa sudah cukup. Sudah cukup lama aku menggosok-gosokkan sikat gigi ini. Coba kulihat jam, sudah berapa lama aku melakukan ini? Oh, belum sampai semenit. Tak apa, sudah cukup.
Bagus, kulihat ada tiga helai bulu ketiakku di antara bulu sikat gigi orang itu. Sempurna. Wahai bulu ketiakku, pengorbanan kalian tak akan tersia-siakan. Aku jamin pembalasan dendam model begini tidak akan menyakitkan. Malah aku yang penasaran, seperti apa “rasa” sikat gigi itu sekarang.
Kutaruh lagi sikat gigi dia ke gelas di atas wastafel. Aku cuci tangan dan merapikan kemeja. Oke, saatnya aku pulang. Keluarlah aku dari kamar mandi dengan beban di perut telah berkurang.
Tanpa muka bersalah, wajah polos tanpa ekspresi—meniru judul lagu Lady Gaga, poker face—, aku keluar dari rumah. Baru sampai di teras, sudah memakai sepatu, aku tersadar barang-barangku masih ada di dalam, di kamar orang yang tadi mengejekku.
Terpaksa aku kembali dan bertemu muka dengan sang pengejek. Sebenarnya, aku enggan melihat wajahnya, khawatir aku kembali sakit perut. Entahlah, di wajahnya terdapat sesuatu yang mampu merangsang orang untuk menamparnya. Sesuatu itu adalah keadaan yang sangat dibenci oleh kaum bermuka pas-pasan seperti aku. Efek paling ringan selama ini yang kuterima ketika memandangnya adalah kentut beruntun lima kali, seperti rentetan bunyi kembang api di malam pergantian tahun.
Di kamarnya, aku melihat tasku digeledah oleh sang pengejek. Buku catatanku tergeletak di lantai. Novel yang belum selesai kubaca terbuka terbalik di ranjang. Tempat pensilku yang berisi penuh spidol dan pensil berwarna dalam keadaan terbuka di lantai, hampir semua isinya keluar. Kertas-kertas tugasku berserakan di lantai dekat meja komputer-nya. Kalau ada yang namanya pelecehan terhadap benda mati, maka inilah bentuknya.
Sang pengejek hanya tersenyum jahil padaku. Sialan, kutampar wajahmu baru tahu kau. Tak ada yang bisa aku lakukan selain tetap mempertahankan poker face-ku. Pelajaran yang kudapat tiga tahun lalu ketika aku di-bully oleh senior, jangan tunjukkan kelemahanmu —termasuk wajah idiotmu— atau kau akan menjadi sasaran emosi senior.
Kuambil dan kubereskan barang-barangku kembali, tanpa mendengar segala macam ocehannya. Aku tak mendengar sekalipun ucapan maaf dari mulutnya. Bah, memang ada saja bentuk iblis di dunia ini.
Sebelum aku keluar dari kamarnya, ia masih mengoceh. Ocehan tentang diriku. Sempat terbersit keinginan menyumpal mulutnya dengan kepalan tanganku. Tapi kalau kulakukan itu, giginya bisa rontok semua.
Pintu tertutup di belakangku. Aku memandang sekali lagi ke kamar mandi.
Hm. Oke, telah aku putuskan, akan aku tambahkan menu selangkangan ke sikat gigi tadi sebelum aku pergi.
******
Pernahkah di benak narablog dan pembaca sekalian terlintas untuk membalas dendam pada seseorang? Terlaksanakah?
———————————————————————————————————————————————————–





















bwahahahahaha…. mantaaaap….
walaupun *mungkin* fiksi, tapi dapat dibayangkan kekesalannya
kalau soal mengerjai dan dikerjai, itu hukum alam yg normal bagi saia
laksanakan mas asop! laksanakan! hahahaha….
Lho, pertanyaan saya yang terakhir gak dijawab….
sudah dijawab, secara tersirat.
itu pada baris ketiga
Belom menjawab saya rasa.
Sudah terlaksana belom?
asemik….aku malah sik mau muntah Sop…hueeekkkk….
Aduh maap…
yaolo Sop
gara2 baca ini ga bakal lagi deh aku ninggalin sikat gigi di kamar mandiku sekalipun
bakal aku bawa masuk kamar molai hari ini
takut ada yg iseng entah balas dendam
beda tipis itu
huek
asoop …. *kethak*
*menghindar dari kethakan Mbak Nique*
oiya Sop
ada yg blom dijawab
pernah sih terlintas mau balas dendam sama orang yang udah jahatin
tapi sayangnya engga terlaksana huehue ….
ciri anak bae gitu emang yak hahaha
Anak baik dilindungi Allah…
Ugh… Itu sikat gigi….
Jangan balas dendam deh, gak baik…
Oke, saya turuti.
hahaha geli banget…
kalo gak suka ama orang itu, lain kali jangan main ke rumahnya aja kali ya…
Yah, namanya juga musuh dalam selimut, belom tahu kalo itu orang “jahat”….
Hiiiiiiiiiiii
setelah baca ini pikiranku langsung bayangin macem2
haduhhh,,,
hehehheh
*maap*
oooh
pikiranku jadi kyk gini:
itu terasa baru 2 tahun tokoh “AKU” tinggal di rumahnya pengejek.
si pengejek itu pacarnya (yg kepaksa sama “AKU” karena ortunya), sukanya ngece klo “AKU” agak… yah klo dikatakan, tidak seatletis Ade Rai, dan juga kekayaannya “AKU” lebih kecil dari si pengejek. dan kejadian sikat gigi ketek
balas dendam? sering sih kepikiran, tapi yg terealisasi ga ada, karena rata2 balas dendamku berupa jebakan2 yg kayak di Vietnam itu. pokoknya yg berhubungan dengan darah lah
Hmmmm, pacar? Bukan, kurang tepat.
Astaga…. balas dendam berdarah-darah?
duh salah ya? tp itu pikiranku yg terlintas, soalnya jg lagi sebel ma temen cowokku yg sifatnya persis plek kayak musuh itu
sayangnya ga tau rumahnya dimana, jadi ga bisa pasang strategi *sikat ketek* itu
looh masi untung dalam mimpi mas, klo kenyataan, satu kelas isinya uda tinggal aku aja
Waduh. Seram.
uweekh. sumpah, Bang, pembukaannya berhasil bikin enek ><
Toss dulu!
Wah, vulgar penceritaannya, menarik, hehehe
Kok barang-barangnya bisa ada di kamarnya? hehehe
‘Kan memang lagi main ke rumah si musuh itu….
kejam … kau sungguh kejam sop
balas dendam yang benar2 kejam
bakteri di ketiakmu akan menyerang gusinya dengan baik
lalu dia akan merasakan sensasi luar biasa gila
apakah dia masih hidup sekarang?
Huahahaha tanggapan yang bagus.
Entahlah, gimana nasibnya, lha wong kisah ini ada di dunia lain.
HUAHUAHUAHUAHUAHAUHAUHA…cara yg keren banget untuk bales dendam
Kepikiran untuk bales dendam? Jelas pernah.
Gua punya orang yg gua benci dari SMP, dan gua rela lakuin apa aja untuk bikin hidup orang itu menderita…dan ya, gua bisa dikatakan berhasil
Tapi seiring usia kita bertambah, kita jadi lebih banyak mikir
Misalnya tadi pagi, gua tiba2 dapet kesempatan untuk membalas seseorang yg akhir2 ini terus2an bikin gua kesel
Tapi waktu mau gua lakuin hal itu, tiba2 aja ada suara di kepala gua
“You’re an adult, Keven. I think you should act like one.” (Dan ya, suara itu ngomong dalam bahasa Inggris)
Akhirnya gua batal deh bales dendamnya…ya sudahlah, laen kali aja kalo dia bikin gua kesel lagi
Sometimes it sucks to be an adult…
Ini bukan saya lho Bang, ini bukan saya, ini murni cuma ada di otak saya, fiksi.
Hmmm… kadang kita pengen banget kembali ke masa kanak-kanak ya…
Alhamdulillah…nay bukan termasuk orang pendendam,, intinye siih cukup tau aza tentang perlakuan orang tersebut
Oh…. eh tapi, sesuai kata orang, “easy to forgive but not to forget.” Apakah Nay seperti itu juga?
Saleum,
Wowww….. sangat2 kejam metode balas dendam seperti itu sop, hahaha….. aku jadi ngakak nih
tapi aku gak mendendam kok sop, jadi gak ada pengalaman seperti itu
Hahaha, saya jahat ya, memberitahu salah satu ide untuk balas dendam kayak begini.
HAHAHA, USIL DAN JAHIL yang menyatu dalam sebuah upaya pembalasan dendam #lebay nih komentator.
yang penting jangan suka mendendam , kalo mendendang tak apa2 meski berlagu melayu #nggak nyambung
Ah gak lebay kok, saya suka komentar Mas Iwan…
Bener, daripada memendam dendam, bara api yang terus tersimpan itu gak bagus, harus segera dipadamkan.
sempurna.. bisa digunakan utk orang2 tertentu .. hehhe
salam
Ada yang berminat mencoba menirunya?
Jadi ya Sop, aku baca postingan kamu pas sambil makan siang. Ahahahahahaa..
Aku pernah balas dendam, kecil-kecilan sih. Tapi sering
)
Biasanya sama cewek (-cewek) tak dikenal di angkot. Cewek (-cewek) yang duduk di pojokan ud gitu duduknya miring, padahal angkotnya penuh. Kan makan tempat. Ditegur baik-baik malah ngeyel. Biasanya kalau saya turun duluan, saya sikut dia kuat-kuat, minimal dia mengaduh, maksimal jatuh ke depan, deh. Lalu saya akan menoleh sekilas dan bergumam, “Maaf,” padahal dalam hati mah puas banget
Kalau angkotnya kosong sih, terserah aja, ya. Mau tidur-tiduran juga saya nggak akan protes.
Pernah juga sama perokok yang duduk di depan saya di kopaja. Kan asapnya ke belakang, tuh. Saya tegur baik-baik, dia marah-marah nggak jelas gitu. Ya udah, saya diem. Males banget berdebat sama orang yang udah tau salah kok malah galakan dia. Pas saya turun, saya injek kakinya kuat-kuat sambil pasang poker face itu, hihihihi..
Ah gawat nih nulis di sini, kalau “korban” saya ada yang baca, gimana ya.. :p
Waduh…. luar biasa. Saya gak nyangka wanita bisa semarah dan sedendam itu.
Hahahaha..
Asop!! postinganmu nggilaniiiii >.< untuuung hari ini tidak ada jadwal makan siang
walaupun tipe orang yg memegang asas "easy to forgive hard to forget" tapi ngga pernah tuh punya niat balas dendam, palingan sampai batas makimaki dalam hati aja hehehehe
Huahahaha, maap…
Terus gak makan siang?
Bukan maksud saya membuat jijik…
Senin jadwalnya cuma makan dini hari sama makan malam
tapi kan aku orangnya suka berimajinasi kebablasan, jd kebayang aja ituuu kalo sampe sikat giginya kepake sama si korban, ya ampuuuuuuuuunn, hueekkkkkk :-&
Oooooooh, pola makanya (dietnya) begitu ya?
Harusnya makan siang itu wajib, jangan sampe nggak.
Makan malem yang jangan banyak-banyak.
balas dendam sih, enggak pernah ya. langsung aja marah ke orangnya kalo emang dia salah. tentang ceritanya, -,- kerasa sih jiwanya, tapi topiknya serem ih..
Huahahaha, serem yah?
Maap deh, ini saya menulis apa yang ada di dalam pikiran saya aja….
mestinya jangan begitu caranya, begini…(rasanya gak baik deh berbagi ketidakbaikan?) enggak deh!
Kang Asop ini fiksi atau pengalaman sampean sendiri.. hayoooo..?
tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya memakai sikat gigi itu wkwkwk
Ini fiksi. Murni fiksi.
pernah sih.. tapi balas dendamnya nggak pake sikat gigi sih Sop..
gile aje.. tapi mantep nih balas dendamnya..
semoga cerita Asop TIDAK menginspirasi manusia manapun… AMIN!
Hehe, maap deh kalo tulisan saya ini ternyata mengilhami teman-teman yang berminat balas dendam…
Sop, jijik banget! Hahhaa….tapi ini kece, the beautiful revenge. Hajar!
Saya aja yang nulis ini jijik sendiri, Mbak….
balas dendam? ya pernah sih bbrp kali niat balas dendam, dan terlaksana. hehehe…
Luar biasa.
sepertinya cerita “unik” di atas adala ekspresi mas asop klo pengen balas dendam, wah kasian sikat giginya ya, main2 ke ketiak dan selangkangan he3. tentu sebagai manusia biasa, pernah ingin balas dendam, tp senantiasa berusaha utk tidak. pun tidak ingin perasaan itu ada, diminimalisis walopun susah,pelariannya kadang2 iseng njahilin teman2 yg lain, ato makan dan tidur hahah a:D
Eits, saya gak pernah melakukan itu lho ya.
Walah, aku bingung ini fiksi genre apa. Nggilani tenan.
Eh, apa Mas Asop pernah melakukan seperti tokoh aku yang mas tulis?
Wkwkwk…
Hmmmm.. ini fiksi aja. Hanya fiksi.
Nggak ah, saya belom pernah melakukan itu.
dendam sama orang ? pasti perah.. tapi kalo ngebales ? saya kok selalu inget pesan orang tua saya. ngebales orang yang jahat sama kita ga harus dibales dengan kejahatan juga.. tapi baleslah dengan bikin dia sadar bahwa apa yang dia perbuat itu jahat.. itu pasti sangat menyakitkan ! Faktyanya baru 1 kali saja aku bisa melakukan apa yang diminta orangtuaku.. selebihnya aku ngga pernah bales
Iya sih Bang… kayak Nabi Muhammad SAW, beliau nggak pernah membalas orang2 yang menyakitinya.
hhahha~ lucu nih orang, psikopat level SD ini
kayaknya emang track record di-bully-nya udah panjang ya ni orang :O
ini murni fiksi kan bang ? bukan pengalaman pribadi
Hahaha ini murni fiksi, bukan pengalaman pribadiiii
hoo aku sih nggak bales dendam sih
aku cuma bakalan tidak menganggap dia ada ckikikik
Huaduh, saya rasa itu lebih kejam.
aku jejalkan kepala sikat gigi dia ke dalam ketiakku.
asop jorokkkkkk
Mending mana sama diselipin ke selangkangan??
Sy stop baca diparagraf di atas.
NGGAK KUAT BACANYA….
PLEASE DON’T TRY THIS AT HOME!!!!!
berimajinasi saja udah bikin mual2, apalgi ada yg tega nglakuin kek gitu… KEJAAAM.
*pengen-ganti-sikat-gigi-baru*
Iya, jangan sampe ini dilakukan beneran.
gubrak..tapi kalo sebelum sikat gigi kan biasanya sikatnya dibilas dulu sama air. hehehe
Iya, memang. Apalagi ditambah rasa odol yang manis, jadi gak terasa.
serius nih, ini fiksi apa beneran?
Fiksi. Hehe, maap ya kalo menjijikkan.
Cara balas dendamnya kocak… Kalau langsung dihajar aja bukannya lebih puas? hehehe
BIsa sih, tapi nanti bisa berkepanjangan….
itu bagian keteknya jadi membayangkan keaseman yang luar biasa
D
sempat juga pernah balas dendam sih, tapi itu dulu
Oh pasti dong, gak mungkin ketek tanpa deodoran gak asem….
wah bang usop balas dendamnya keterlaluan wkwkwkwkwk. . . gak sekalian buat cebok aja tu sikat gigi. . .
Nah, maunya sih saya bikin begitu, buat cebok.. tapi itu sudah keterlaluan, bisa2 disensor.
Bahasanya keren, linguistik yang epik, tapi nggaktahu kenapa saya ketawa-tawa sejak paragraf pertama, wuakakakakakak
Balas dendam yang epik… wkwkwk
Aduh, jangan ketawa kebanyakan, Mas Ahmad..
bang asoooopppp haloo
gimana kemarin kopdaran sama anak bandung jadi?
rame nggak?
btw hueeekkss banget kalo ada orang yang balas dendamnya beneran kayak gitu.
mending beli sikat gigi baru kalo tau. hahaha
Jadi dong ah! Kamu kemana ajaaaa kok saya hubungi via komentar di blog kamu tapi gak ada kabarrrr!
aaahhh tumben neh si asop nulis fiksi.. keren juga
Makasih pujiannya…
wkkkkkwwwkkkkkkk…. sampe hampir lupa baca kata ‘FIKSI’ nyaa… yang pd punya musih, silahkan ganti sikat gigi setiap hari!
Huahahaha, jangan anggap ini beneran dong…
Salam kenal buat semua,,saya bloger newbie
Salam kenal!
Sering-seringlah blogwalking ya.
wakaka nggilani… hoeks… modus balas dendam yang fantastik
Huahahaha, maap deh, kalo menjijikkan.
Hehehehe…. Jangan sampai pake menu yang terakhir itu!
BTW, nice blog, Asop!
Iya ya, menjijikkan…
Ah, blog Rizqi juga bagus, kok!
kok kayaknya ini bukan fiksi deh? *ngikik*
Ini fiksi Bang, serius!
Asop, sadis banget kamu bikin karakter. Tulisan ini pelampiasan kemarahanmu ya?
Bukan Mas, ini murni hasil pemikiran mendadak pas ngelihat kamar mandi…
Whuaaaaa…
Asop kejam nan sadiiiiiiiis…
Tak akan pernah kuijinkan dirimu tuk menginjak kan kaki di kamar mandi ku Sop…hihihi..
btw…diledekin apaan sih sampe dendam begituh….
*langsung ngeri secara pas kopdar kemaren aku yang paling vokal meledek dirimu sebagai anak bawang…hihihi…*
Huahahahahaha tenang aja Teeeeeh, saya gak dendam, ini ‘kan cuma fiksiiii ini murni karangan sayaaaa

huahahaha, mantab tuh acara balas dendamnya, kalo saya yang di gituin langsung aja browsing cari kata makian jawaban hahaha, biar seru say war nya, hahaha # ketawa 2 hari
Browsing dulu? Kelamaaan!
wakakakakakakkkkkk… saia ketawa saja membacanya, bener2 sadis
Syukurlah kalo menghibur.
Hahahaha, berpikiran untuk balas dendam sih pernah, cuma gak yang model begini caranya…
Model gimana dong? Damprat langsung?
100. Kasihan
Emang sikat giginya salah apa, Asop?
Sikat gigi adalah pengorbanan.
Ingat, hidup ini penuh dengan pengorbanan
Wah, pembalasan tidak setimpal…
Tapi nide idea…
Eh, kalau soal balas dendam sih, biasanya saya tidak lakukan. Karena biasanya saya terlalu telat untuk mengambil keputusan untuk membalas dendam itu…
Hm hmm *manggut-manggut* Saya ngerti kok, saat udah lama berlalu, kita baru terpikirkan metode pembalasan yang pantas untuk pengganggu kita.
wakakakak……ada2 aja feb… fiksi apa pengalaman pribadi hayoo??
Ini murni fiksi, murni karangaaaan!!
tentu tidak. Saya kan tidak pendendam
hanya pemendam
Awas lho, kalo dipendam terus bahaya ah.
ahahahahah,,, tulisan yang penuh dendam nih,,hahahah bagus bang, kocak… ternyata begini ya gambaran bang asop kalo marah sama orang,, wkwkwkwkwwkwkwk
Nggak dong, ini cuma karangan.
Hahaha… maaf ijin ngakak dulu disini… Ada2 saja!
Balas dendam? Seingatku aku belum pernah melakukannya… tapi rasanya perlu juga aku pikirkan hehehehe
Ini Mbak Reni ya?
ya ampuuun… kejam nian! hahaha … tapi kalau ternyata si empunya sikat gigi itu bukan si pengejek gimana dong? hihihihi..
balas dendam? pernah nggak ya? duh, kok lupa sih sop. kali waktu aku kecil, pernah ya
Nggak mungkin, sang tokoh utama sudah tahu pasti, kok.
hihihi, pernah nonton Horrible Bosses, sop? di situ pegawainya kesel setengah mati sama bosnya, sampai-sampai dia ngerjai bosnya kayak gitu?
Huahahaha udah nonton dong! Itu film komedi luar biasa
Tapi saya bikin ini bukan terinspirasi dari situ. Memang mirip sih….
ga akan kutinggalin sikat gigiku di kamar mandi kalo asop lagi mampir..jiakakakakakakaka…
Oke, hati2 ya.
Aku jarang gosok gigi loh, jadi kemungkinan besar aku tidak akan balas dendam
Maksudnya Dyka gak bakal kena balas dendam ya?
saya sering ‘dijahatin’ tapi ga lah ya kalo balas dendam.. takut engga setimpal, ntar jadi ga impas
biar Alloh aja yang balas, pasti adil
Makanya ya Ndi, kalo jadi orang kita gak boleh ngebikin jengkel orang…