Ini wujud gantungan kunci sepeda motor saya. Dengan begini, jika menemukan kunci motor dengan hiasan seperti pada gambar berikut, hubungi saya, ya.
*eh maksudnya semoga jangan sampai kunci saya hilang*

Ini wujud gantungan kunci sepeda motor saya. Dengan begini, jika menemukan kunci motor dengan hiasan seperti pada gambar berikut, hubungi saya, ya.
*eh maksudnya semoga jangan sampai kunci saya hilang*

Judul posting-an ini nggak terasa aneh, ‘kan?
Apapun judulnya, saya merasa hari ini akan menyenangkan.
Mulai pagi tadi, habis sholat subuh, saya makan roti secukupnya lalu menyeduh kopi (belum saya minum), dan langsung menjemput adik saya di kosan temannya. Setelah sampai kembali di rumah, saya minum kopi saya dan sedikit makan pempek Palembang sisa semalam. Pukul 06.30 saya mengantar adik saya ke kampus, lalu saya lanjut lari pagi di Saraga (sarana olahraga ganesha).

Setelah sebulan lebih hampir dua bulan saya biasa lari saat sore hari, akhirnya kesampaian juga lari pagi. Kebiasaan yang dulu saya praktekkan kembali saya coba. Berkat doping kopi yang tadi saya minum dan udara segar pagi hari, lari 5 kilometer saya jadi nggak terasa melelahkan, malah menyenangkan.
Terkena terpaan cahaya matahari pagi, bermandikan keringat, sungguh membuat badan segar. Lanjut baca aktivitas pagi saya!
Sebelum masuk ke topik bahasan sesuai judul, saya ingin laporan dulu.
Perihal posting-an terakhir kali (sebelum ini), saya berkata saya akan mencoba untuk lari sore menjelang berbuka. Saya sudah mencobanya, hari selasa (9/8) yang lalu. Hasilnya, ternyata tidak se-melelahkan yang saya kira. Malah rasanya saya bisa lebih kuat. Lelah yang biasa mendera saat menit ke 20-an, saat itu belum terasa. Makanya, di luar dugaan saya bisa menyelesaikan lari kemarin selama 25 menit tanpa henti (sengaja tidak saya lanjutkan, penyesuaian dulu ke tubuh).
Maklum, saya kaget karena puasa tahun lalu saya tidak olahraga lari. Saya ‘kan baru memulai rutinitas lari ini januari tahun ini.
*****
Kembali ke topik utama, saya tahu dari posting-an yang lalu dari komentar-komentar yang narablog berikan, banyak sekali yang senang ber-JJS ria dan olahraga ringan setelah subuh. Bukan “jalan-jalan sore”, tapi “jalan-jalan subuh”.
Beberapa narablog pria malah memilih berolahraga ringan setelah subuh, seperti push-up dan sit-up. Ini hebat sekali. Berbeda dengan saya.
Kalau saya, rutinitas setelah subuh adalah membuang sampah (ke tempat sampah di depan rumah) dan menyiram tanaman.
Tak terasa sudah tujuh hari berpuasa. Sudah seminggu pertama, masih ada tiga minggu lagi.
Sampai hari ini saya belum berolahraga (berat) sebagaimana yang saya lakukan sehari-hari sebelum puasa (baca posting-an ini).
Entah mengapa, saya merasa energi saya terkuras untuk kegiatan di kampus. Saat pulang ke rumah waktu sore (menjelang buka), saya hanya sempat berolahraga lompat tali (jump rope/skipping) dan sedikit bodyweight training (seperti push-up, sit-up, dan crunches). Saya tetap bersyukur, push-up pun punya banyak variasi gerakan. Lain posisi lain pula bagian tubuh (otot) yang terlatih.
Paragraf di atas untuk hari kerja. Anehnya, ketika hari sabtu (6/8) dan minggu (7/8), saat saya punya waktu kosong, saya malah merasa was-was untuk lari.
Masalahnya begini. Tanpa olahraga saja bobot tubuh saya sudah turun perlahan. Bobot saya saat ini 61 kg. Itu saya timbang saat siang menjelang sore, saat keadaan tubuh sedang ekstrem-ekstremnya (kadar gula darah sudah menurun drastis). Biasanya, sebelum puasa, bobot stabil saya 62-63 kg (keadaan perut kosong pagi hari). Saya sendiri sadar, saya tidak mau olahraga terlalu berat. Saya tidak mau bobot tubuh saya berkurang lagi (kurang dari 61 kg).
Di lain sisi, saya tidak mau kehilangan stamina saya.
Saya sih sudah siap menerima penurunan tingkat stamina (barangkali turun 10 – 20 %) saat nanti sehabis bulan ramadhan. Tapi ya saya nggak ingin terjadi perbedaan yang begitu mencolok, saya nggak ingin stamina saya anjlok banget. Ini yang saya khawatirkan jika selama bulan ramadhan ini saya nggak olahraga lari.
Sebenarnya, ada artikel kesehatan yang mengatakan bahwa waktu olahraga terbaik adalah saat selesai tarawih. Tapi, bagi saya itu sudah malam, dan tidak mungkin saya lari di luar.
Masalah akan teratasi jika saya punya alat treadmill di rumah. Sayangnya itu tidak terjadi.
Oke, kalau begitu, saya bertekad untuk mencoba olahraga lari sebelum berbuka selama seminggu ini. Nggak usah terlalu lama lah, dari yang dulu biasa lebih dari dua belas putaran jogging track non-stop (sekitar 30 menit lebih), saya coba dulu sekuatnya, mungkin enam putaran saja (sekitar 15 menit).
Nah, sebagai penutup, ada dua pertanyaan nih, yang ingin saya tanyakan ke narablog sekalian.
Sesuai dengan kebiasaan saya sejak tahun 2008 lalu (pernah saya tulis di sini), selama bulan ramadhan ini, saya “puasa” minum kopi. Yap, selama 30 hari puasa saya nggak minum kopi. Terakhir kali saya minum kopi ya hari minggu (31/7) yang lalu. Bukan hal yang sulit meninggalkan kopi, karena pecandu kopi amat berbeda dengan pecandu rokok.
Tanpa kopi, saya nggak uring-uringan. Tanpa kopi, lidah saya tetap terasa enak.
Kopi membuat peminumnya sering buang air kecil. Makanya, nggak pantas minum kopi pas sahur. Kalau minum kopi ketika makan malam, bisa-bisa nggak tidur sampai sahur. Kecuali ingin mengaji hingga sahur datang, tentu minum kopi tidak disarankan.
Sekalian saya mau me-review sebuah minuman.
*duh bahasanya, minuman sampai diulas segala*
Sebenarnya, saya termasuk orang yang jarang pakai earphone atau headphone. Saya menyebut “jarang” di sini dalam maksud bahwa saya hanya memakai earphone untuk menemani saya lari (mendengarkan musik) dan headphone untuk mendengarkan musik trance (kesukaan saya).
Padahal, saya lari lima atau enam kali dalam seminggu, dengan durasi antara 30-40 menit. Sudah nggak bisa dibilang “jarang pakai earphone” lagi ya…
*pengakuan*
Earphone atau headphone menjadi pelengkap bagi saya dalam menikmati musik trance. Dentuman bass dan melodi-melodi rendah yang khas bisa lebih nikmat terdengar dengan headphone. Bagaimana jadinya kalau busa bantalan telinga (ear pad) headphone saya ini sobek?

Headphone saya ini adalah Sennheiser PX-100. Kualitas suaranya saya pikir amat sangat bagus untuk ukuran headphone kecil. Rentang respons frekuensinya ada di kisaran 15 – 27000 Hz. Luar biasa, ‘kan? Dengan rentang sebesar itu, jangkauan suara yang bisa dihasilkan (dan kita dengar) akan sangat luas. Mau nada rendah, nada tinggi, bass, treble —apapun itu saya gak tahu istilahnya— bisa terdengar amat baik.
Saya nggak berlebihan saat membuat judul di atas. Saya memang membutuhkan madu. Setidaknya setelah selama bulan juni ini saya baru merasakan manfaat tambahannya.
Akhir-akhir ini, sejak pertengahan bulan juni, saya selalu minum dua sendok makan madu setiap pagi, sebelum saya lari pagi. Tujuan saya awalnya cuma satu, hanya sebagai doping alami.
Tapi, ternyata ada efek lain yang saya dapat dari minum madu di pagi hari. Apa itu? Lancar buang air besar (BAB).

Akhirnya baru bisa sekarang saya menerbitkan posting-an ini. Maapkan saya, wahai empat kawan narablog yang men-tag saya.
Mereka adalah Kezia, Tiara, Brigadir Kopi, dan Uni Ani.

Langsung aja deh ya, beberapa fakta di sini sudah pernah saya ceritakan di posting-an terdahulu.
Ayoooo lanjut untuk mengetahui tentang diri saya lebih lanjut!
Saya suka banget ama permen yang satu ini.

Kalau disuruh memilih makanan manis antara permen ini, TOP, Beng Beng, atau cokelat seperti Silverqueen dan Toblerone, saya akan memilih Alpenliebe.
Recent Comments