Suara keras pintu didobrak. Seorang pria masuk menerobos pintu. Aku terlonjak, begitupun lima orang rekanku. Pria itu mengangkat pistol yang ia genggam dengan dua tangan, dan tanpa bicara ia menyerang kami.
Letusan pistol terdengar nyaring di telinga, diikuti dengan jatuhnya rekanku di seberang meja. Tubuhnya terpental ke belakang, jatuh di atas meja, seolah didorong oleh angin. Letusan kedua menyusul, terdengar jeritan tertahan rekanku di sebelah kiri jauh dekat tembok ruangan. Tubuhnya terduduk di lantai dengan noda darah bagai lukisan air terjun merah di dinding. Letusan ketiga menyahut, diikuti oleh ambruknya tubuh rekanku di sebelah kanan dekat jendela. Peluru menerobos tengkoraknya di bagian dahi, menyemprotkan serpihan otak dan darah ke kaca jendela.
Satu rekanku gagal menggunakan pistolnya. Saat ia sudah menggenggam pistolnya di pinggang kiri, tangan kirinya terantuk meja. Benturan itu sangat keras, hingga pistolnya jatuh dari genggaman. Ia panik, dan akhirnya dua peluru menembus dadanya.

Tinggal aku dan satu rekanku. Sesaat setelah letusan kedua, aku dan rekanku membalikkan meja yang tadi kami pakai untuk main kartu. Meja yang kokoh dan tebal, terbuat dari kayu jati tua. Kami berlindung di baliknya.
Aku mengeluarkan pistol. Begitu juga rekanku. Kami saling bertukar pandang dan sepakat, hitungan ketiga kami balas menembak.
Lalu, kami berdiri. Pistol kami genggam mantap, siap menerima serempetan peluru jika pria tadi menembak.
Kosong. Di hadapan kami kosong. Tak ada siapapun.
Tak ada sosok pria yang tadi menerobos masuk. Tak ada siapapun.
Pria itu lenyap. Hilang.





























Recent Comments