Archive for the 'What If…' Category

30
Mar
12

[Fiksi] Perang Mafia

Suara keras pintu didobrak. Seorang pria masuk menerobos pintu. Aku terlonjak, begitupun lima orang rekanku. Pria itu mengangkat pistol yang ia genggam dengan dua tangan, dan tanpa bicara ia menyerang kami.

Letusan pistol terdengar nyaring di telinga, diikuti dengan jatuhnya rekanku di seberang meja. Tubuhnya terpental ke belakang, jatuh di atas meja, seolah didorong oleh angin. Letusan kedua menyusul, terdengar jeritan tertahan rekanku di sebelah kiri jauh dekat tembok ruangan. Tubuhnya terduduk di lantai dengan noda darah bagai lukisan air terjun merah di dinding. Letusan ketiga menyahut, diikuti oleh ambruknya tubuh rekanku di sebelah kanan dekat jendela. Peluru menerobos tengkoraknya di bagian dahi, menyemprotkan serpihan otak dan darah ke kaca jendela.

Satu rekanku gagal menggunakan pistolnya. Saat ia sudah menggenggam pistolnya di pinggang kiri, tangan kirinya terantuk meja. Benturan itu sangat keras, hingga pistolnya jatuh dari genggaman. Ia panik, dan akhirnya dua peluru menembus dadanya.

Tinggal aku dan satu rekanku. Sesaat setelah letusan kedua, aku dan rekanku membalikkan meja yang tadi kami pakai untuk main kartu. Meja yang kokoh dan tebal, terbuat dari kayu jati tua. Kami berlindung di baliknya.

Aku mengeluarkan pistol. Begitu juga rekanku. Kami saling bertukar pandang dan sepakat, hitungan ketiga kami balas menembak.

Lalu, kami berdiri. Pistol kami genggam mantap, siap menerima serempetan peluru jika pria tadi menembak.

Kosong. Di hadapan kami kosong. Tak ada siapapun.

Tak ada sosok pria yang tadi menerobos masuk. Tak ada siapapun.

Pria itu lenyap. Hilang.

Yuk mareee lihat lanjutannya!

22
Mar
12

[Fiksi] Toilet

Aduh, sial sial sial. Perutku mulas. Tekanan dari dalam perutku hampir tak bisa kutahan. Sudah diujung!

Syukurlah, stadion ini punya toilet. Sungguh tak enak rasanya, menonton pertandingan klub sepak bola favoritmu diselingi dengan buang air. Airnya bukan air kecil, airnya yang besar.

Toilet yang aneh. Toiletnya berada di ujung, jauh dari jangkauan penonton. Jauh dari pintu masuk.

Di dalam, ternyata bersih. Wangi pengharum. Kacanya kinclong. Wastafel mengkilap. Setidaknya yang kudapat jauh lebih baik ketimbang yang kuharapkan.

Aku cari toilet duduk. Pintu pertama kubikel kubuka, jongkok. Pintu kedua kubuka, jongkok. Pintu ketiga kubuka, masih jongkok. Saat pintu keempat kubuka, akhirnya toilet duduk.

Segera kuambil banyak tisu, dan kulapisi dudukan toilet dengan kecepatan dewa. Dorongan dari dalam perut ini sungguh mendesak. Tak ada apapun yang bisa menghalangiku.

Belum sedetik pahaku menyentuh dudukan, ampas pencernaan tubuhku langsung berebutan keluar. Sabar, sabar, kataku. Kalian semua akan keluar dengan teratur.

Sensasi kelegaan yang tiada duanya, melebihi sensasi ngupil yang juga nikmat.

Seketika aku ingat. Ada orang bilang tak boleh bersiul di dalam kamar mandi. Entahlah, apakah maksudnya ketika sedang mandi atau buang air. Lebih spesifik, ada juga yang bilang tak boleh bersiul ketika buang air besar. Sekali lagi, aku tak tahu apa alasannya.

Tak ada salahnya aku coba bersiul, bukan? Aku tak percaya takhayul, tapi sungguh aku hanya ingin mencobanya. Adakah yang terjadi jika aku bersiul saat buang air?

Maka bersiul-lah aku. Sekali hembusan. Merdu. Tak terjadi apa-apa.

Siulan kedua. Dua kali hembusan. Merdu. Tak ada apa-apa.

Siulan ketiga—aku terlonjak berdiri.

Astaga, Apa itu tadi? Ada yang menyentuh bokongku! Iya, ada yang menyentuh bokongku dari dalam lubang pembuangan! Aku tak main-main, serasa ada tangan—lebih tepatnya jari—yang meraba bokongku!

Ayo lanjut baca!

20
Mar
12

[Fiksi] Konfrontasi, Terbunuh, dan Terkoyak

Anton dan Tobias. Bukan nama satu orang seperti tokoh utama dalam film Idle Hands yang diperankan oleh Devon Sawa. Dua nama itu adalah nama dua orang yang saat ini sedang bersitegang di sebuah rumah di pinggiran kota. Ini adalah rumah Tobias, sebuah rumah model lama dengan halaman yang amat luas jauh melebihi luas bangunannya. Tiga anjing Rottweiler yang tampak ganas selalu bersiaga di halaman rumah, menjaga dari apapun makhluk hidup yang mencoba masuk ke dalam rumah.

Dua pria dewasa ini sebenarnya saling berteman, mereka satu hobi, sering keluar makan malam bersama, dan mereka saling menghargai satu sama lain. Baru akhir-akhir ini hubungan mereka rusak akibat perselingkuhan. Ya, lagi-lagi kembali ke masalah wanita. Istri Anton main gila dengan Tobias, entah siapa yang memulai.

Anton mengetahui kebenaran pahit ini dari penuturan beberapa temannya yang melihat istri Anton, Bella, berjalan bergandengan tangan dengan mesra di sebuah pusat perbelanjaan. Ketika itu Anton sedang dinas di luar kota, berada sembilan ratus kilometer dari kota tempat ia tinggal. Tak ada orang yang menyangka bahwa ternyata sang istrilah yang berselingkuh.

Maka, saat ini, Anton ingin membuat perhitungan.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan hal ini?” ujar Anton, setengah berteriak. Ia merasa dikhianati, seperti ditikam dari belakang oleh orang kepercayaannya.

Tobias menjawab, “Maafkan aku, Anton. Sungguh, aku minta maaf. Aku tak bermaksud merusak pertemanan kita.”

Tobias mencoba bersikap tenang. Itu sulit, mengingat pisau dapur yang sedang dicengkeram Anton saat ini. Sungguh bodoh, pikir Tobias, mengapa ia membawa Anton ke dapur? Tobias tak mengira sama sekali Anton akan datang ke rumahnya secepat ini untuk meminta penjelasan. Konfrontasi ini sungguh di luar persiapannya.

Anton tak habis pikir. Untuk apa selama ini ia berbagi cerita, berbagi tawa, dan berbagi kesedihan pada pria jelek di hadapannya ini? Ternyata memang tak mudah mencari teman yang bisa dipercaya.

Pisau Anton terangkat, mengarah ke Tobias. “Kau… Selama ini aku percaya padamu, tapi kau berkhianat!” kata Anton. Ia mendekat selangkah ke pria yang ada di hadapannya. Tobias mengangkat tangan.

“Tenang, Bung, tenang. Singkirkan pisau itu, dan kita akan bicara baik-baik. Aku akan beri penjelasan.”

“Persetan kau, bajingan! Kau merebut istriku!”

“Anton, bukan salahku kalau istrimu lebih memilih aku.”

“Kau tak pantas bicara begitu, pecundang!”

Harga diri Tobias bergetar. “Kau yang pecundang, Anton, tak dapat mempertahankan istrimu sendiri,” ujar Tobias.

Hati-hati, ada adegan perkelahian yang serius. Tapi tak ada ilustrasi yang berdarah-darah…

17
Mar
12

[Fiksi] Takut, Sesal, Marah

Lari.

Berlari. Ia terus berlari. Berlari bagaikan dikejar oleh sesuatu yang tak ingin dilihatnya. Atau dijumpainya. Sesuatu yang dibencinya, sesuatu yang tak ia harapkan untuk ditemuinya.

Bisakah sesuatu itu adalah kenyataan? Ataukah, sesuatu itu adalah dosanya di masa lampau? Bisa juga sesuatu itu adalah kematian.

Bisakah sesuatu itu diubah menjadi seseorang? Ya, seseorang. Mungkin ia tak mau melihat seseorang, seseorang yang amat dicintainya, amat ditakutinya, amat dirindukannya, atau bahkan amat ia benci. Tak ada yang tahu. Ia terus saja berlari dan berlari dengan kencang menjauhi segala sesuatu.

Ia seakan berlari di ruang kosong, tak berisi apapun selain dirinya. Waktu terus berjalan, namun seakan kehampaan terus menemaninya. Tak ada makhluk lain selain dirinya dan kehampaan. Staminanya seakan tak terbatas, nafasnya tak terputus, dan kaki tak pernah lelah. Dunia seakan mendukungnya untuk terus berlari.

Tapi, berlari dari apa?

Jantungnya berdegup dengan cepat, seolah ia merasa tak bisa berhenti berlari selama jantungnya masih berdetak.

Kini, larinya semakin pelan. Semakin pelan, hingga akhirnya ia berhenti. Nafasnya memburu, tubuh membungkuk, dan keringat deras mengucur dari semua lubang pori-pori di kulitya.

Kemudian, ia menangis. Air mata keluar begitu saja, membaur dengan keringat di wajahnya. Tangisannya begitu hebat, air matanya begitu deras. Pertahanannya seolah runtuh. Tembok baja yang mengelilingi hatinya hancur. Serbuan ingatannya dari masa lalu menyeruak masuk tak terbendung, membuat tangisannya semakin menjadi-jadi.

Badannya bergetar hebat, bukan akibat kelelahannya berlari, tapi karena begitu hebatnya perasaan yang ia rasakan. Amarah, kesedihan, keputus-asaan, kerinduan, kebencian, dan ketidakberdayaan.

Dalam tangisan dan ratapannya, ia terduduk. Nafasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan. Kedua tangannya erat melingkari tubuhnya sendiri. Ia jatuh ke tanah. Berbaring seperti anak kecil ketakutan. Tak berdaya, putus asa.

Lelah… putus asa… tak berdaya…

14
Mar
12

[Fiksi] Aku dan Elemen Air

Ada apa ya, dengan diriku ini? Itu dulu deh, yang aku tanyakan.

Pagi itu, aku menuju dapur untuk membuat sarapan. Biasanya aku sarapan telur rebus dengan nasi atau nasi goreng dengan orak-arik telur. Aku sudah biasa membuat sarapan sendiri, tak terlupa dengan makan malam.

Begitu masuk dapur, aku yakin sekali dapur dalam keadaan kering. Saat aku sedang berkutat dengan wajan dan telur, aku mengalihkan pandangan sebentar ke arah lain untuk mencari tempat garam dan merica. Ketika aku kembali menatap wajan, aku melihat tetesan air di atas kompor. Padahal tadi kering. Tak hanya di sana saja, ternyata ada genangan air cukup banyak di lantai, tampak seperti menyambung dengan tetesan air di atas kompor. Bagaimana mungkin ini terjadi? Kalau memang tadi ketika aku masuk ke dalam dapur lantainya basah, tentu aku tak akan membiarkannya begitu saja. Aku bisa terpeleset.

Itu kejadian seminggu yang lalu.

Empat hari yang lalu, lagi-lagi kejadian aneh terjadi. Saat itu aku sedang bekerja di mejaku, seperti biasa. Di sebelah kanan, di atas meja komputerku, aku menaruh gelas minuman. Waktu itu aku sedang fokus sekali ke layar komputer, mengerjakan tugas yang hari itu baru diberikan oleh atasanku. Tanganku bergerak ke arah gelas tanpa aku melihat gelas di sebelah kananku itu. Aku sudah yakin dengan jarak yang kuperkirakan, sehingga ujung tanganku harusnya sudah menyentuh pegangan gelas. Tetapi, malah terjadi sesuatu yang aneh. Cairan panas mengenai tanganku.

Cairan kopi panas yang ada di dalam gelasku itu tumpah ke tanganku! Aneh, memang. Tak ada goncangan, gelas tak miring, dan permukaan meja jelas rata. Kecuali ada orang dari balik pembatas kubikelku yang menumpahkan air kopi panas, kemungkinan air dari dalam gelas meloncat sendiri ke arah tanganku sangat tak masuk akal.

Kemudian, tiga hari yang lalu, waktu itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Rute yang biasa kulalui, rute yang telah kulalui selama setahun aku bekerja di kantorku yang sekarang. Di depanku ada seorang wanita berjalan sendirian, sekitar beberapa belas meter di depanku. Ia seorang wanita muda yang —jika dilihat dari belakang— tampak menarik, dengan balutan blazer dan rok warna krem. Seorang wanita berjalan sendirian di malam hari, aku rasa sangat wajar ia menjadi sasaran jahat pria-pria hidung belang.

Sekarang kisah fantasi…

11
Mar
12

[Fiksi] Makhluk Imajinasi

Malam ini adalah malam yang indah. Bulan begitu besar, tergantung di atas sana. Mungkin inilah bulan purnama.

Bulan yang aku tatap sekarang ini sungguh indah. Cahaya bulan terasa amat terang, membasuh tubuhku dengan cahaya keperakan. Malam ini bulan berpendar dengan riang, memancarkan kekuatan yang serasa mampu membangkitkan jasad di bawah timbunan tanah pemakaman.

Aku memandang kakiku, membayangkan dari dalam tanah di bawah sana akan muncul tangan-tangan kurus yang merenggut pergelangan kakiku. Aku bergidik ngeri. Imajinasi dalam benak bisa terasa amat nyata jika kita membayangkan sesuatu yang tak kita sukai.

Mayat. Kerangka manusia. Kuburan. Bangkit kembali. Itu semua adalah cerita horor yang dulu bisa membuatku tak bisa tidur semalaman.

Bagaimana sekarang? Tak ada bedanya. Aku masih saja tak bisa tidur dengan nyenyak kalau membayangkan hal-hal menyeramkan semacam itu. Sebut aku penakut, tak masalah. Toh hanya aku yang tahu kekuranganku ini.

Sekarang tak ada gambar berdarah-darah, aman untuk segala umur!

07
Mar
12

[Fiksi] Perkelahian Bebas

Pertarungan sengit. Sebenarnya, ini bukan pertarungan. Ini sebuah perkelahian.

Dua orang itu sudah bergelut sejak beberapa saat yang lalu. Seorang berkulit gelap, dan seorang lagi berkulit putih. Tak jelas apa penyebab perkelahian ini. Perkelahian memperebutkan sesuatu atau mempertaruhkan harga diri, siapa yang tahu? Tak ada seorangpun dari sekian puluh manusia yang mengelilingi mereka tahu apa penyebab pastinya. Sekumpulan manusia ini hanya senang melihat keributan. Bagi mereka, pertarungan dan kekerasan adalah hiburan. Bagi mereka, tak ada hiburan yang semenarik dua makhluk hidup mempertaruhkan nyawa dalam sebuah kekerasan.

Seorang yang berkulit putih, berbahu lebar dengan tinggi 176 sentimeter, sering dipanggil Anton oleh orang-orang sekitar. Mereka memanggilnya begitu, tak pasti apakah itu memang nama aslinya atau bukan. Anton, dengan tubuh rampingnya yang seperti prajurit zaman Perang Dunia ke-II, memiliki cukup banyak pengikut di tempat ini. Tak ada yang tak mengenal Anton. Meski dengan tinggi tubuh yang tak terlalu menonjol, kelicikannya sudah terkenal jauh lebih tinggi ketimbang tinggi tubuhnya. Ahli dalam berjudi dan tipu daya, jangan harap kau bisa menang taruhan darinya dengan cara jujur. Semua orang tahu itu.

Seorang lagi yang berkulit gelap, dengan tinggi tak jauh berbeda dengan Anton, adalah pendatang baru di tempat ini. Orang-orang memanggilnya Ireng. Kepala pelontos dengan raut wajah yang keras hasil tempaan kehidupan di luar sana, membuat banyak orang salah paham. Orang-orang mengira ia menantang berkelahi, padahal memang seperti itulah raut wajahnya. Dada bidang, lengan kekar, kulit kasar dan gelap, adalah bukti bahwa Ireng seorang pekerja lapangan. Normalnya, jika kau melihat tubuh Ireng, kau tak akan memilih bertarung melawannya. Itu adalah pilihan yang salah.

Gemuruh sorak sorai orang-orang di sekeliling mereka kian ramai. Hiburan yang jarang ada ini sungguh langka. Tak penting apa penyebab perkelahian, yang penting adalah suara gemeretak tulang patah dan bunyi tinju yang mengenai tubuh lawan.

Ayo lanjut baca! Maap ya, ada ilustrasi yang berdarah-darah di sini…

02
Mar
12

[Fiksi] Apel. Keras. Copot

Aku melihat apel.
Ada dalam jangkauan tanganku.
Aku meraihnya. Kugenggam apel itu.
Terasa solid di telapak tanganku.
Samar-samar tampak bayangan seseorang.
Di permukaan apel.
Fantasi. Terulang lagi.

Aku membuka mulut.
Apel mendekat.
Gigiku menghunjam daging buah.
Sensasi aneh kurasakan di kepalaku.
Setruman di saraf. Bergidik.
Semua itu berubah menjadi nyeri.

Sesuatu kurasakan.
Di dalam mulut.
Selain manis apel.
Asin. Hangat.
Oh, rasa asin darah.

Aku menelan.
Aku meludah.
Merah. Kental. Bercampur Liur.
Tak ada gigi.
Gawat. Gigiku tertelan.

******

Ini fiksi, lho…

29
Jan
12

[Fiksi] Balas Dendam

Kesal. Aku masih kesal dikatainya. Dasar dia sok tahu. Dasar dia sok jago.

Apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya?

Sekarang aku berada di kamar mandi. Baru saja aku selesai buang air besar, dan ini bukan rumahku. Ini adalah rumah orang yang tadi mengejekku, perkataannya sangat menjengkelkan sampai-sampai perutku mulas. Bagiku, bukan telinga yang panas, tapi perut.

Aku tak punya perkataan balasan untuknya. Oke, aku akui, dia lebih hebat dari aku. Ya, tak bisa dipungkiri.

Tak masalah, aku akan balas dendam dengan cara lain. Cara yang dia pun tak akan bisa mendeteksinya.

Kuambil sikat gigi orang itu di depanku, dari dalam gelas berisi tiga sikat gigi. Aku tahu yang mana punya dia. Jangan tanya bagaimana.

Tak pakai pikir panjang, aku jejalkan kepala sikat gigi dia ke dalam ketiakku. Aku gosokkan dengan semangat membara. Betapa senangnya hati ini, sebuah luapan kegembiaraan yang entah muncul dari mana.

Jangan lupakan fakta bahwa hari ini aku tidak memakai deodoran. Lupa. Sebagai pria dewasa seberat 94 kilogram yang punya banyak aktivitas, sebuah keajaiban sampai malam ini tubuhku belum menguarkan aroma busuk. Maaf, aku berlebihan, bukan “busuk”. Bukan berarti aku merendahkan tubuhku ini, hanya saja aku tak bisa menemukan kata yang pas. Jangan lupa pakai deodoran!

19
Jan
12

[Fiksi] Dunia Lain

Aku sedang berpikir keras. Aku sedang mengingat saat-saat terakhir hidupku. Biarkan aku berpikir.

Ah! Aku ingat sekarang! Waktu itu, sesosok makhluk muncul begitu saja di depanku. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu saja dia muncul!

Aku sedang mengendarai mobil di tengah hujan deras. Jarak pandang tak terlalu jauh. Lalu, makhluk itu muncul di tengah jalan! Entah makhluk apa itu, aku tak bisa mengingatnya. Menghindari makhluk itu, aku banting setir ke kanan, ban mobilku selip, dan entah bagaimana kejadiannya, mobilku terbalik. Terbalik berkali-kali, aku terguncang-guncang di dalamnya, merasakan tubuhku remuk redam. Masih ada lanjutannya…




Si Empunya Blog

Siapa saya? Monggo lihat halaman "Tentang Saia..." di atas. Tinggal klik! Mau meninggalkan jejak? Monggo klik halaman "Tinggalkan jejak..." di atas. Jangan lupa, nikmatilah hidup ini. ^_^
mac.web.id

Hubungi saya di jejaring sosial

Kadang-kadang di blog ini saya menggunakan emoticon Parampaa. Silakan datang ke blog Bang Ova di sini. Dapatkan emoticon-nya di sini. HAJAR!!

Masukkan e-mail Anda di sini kalo mau dapet pemberitahuan postingan baru saya via e-mail

Join 418 other followers

Powered by FeedBurner

Saya sedang membaca ini



Tulisan Saya Berdasarkan Bulan

Arsip Tulisan

Ups, maap, kalau mau melihat arsip semua tulisan saya, lihat halaman di atas ya, yang "Arsip Tulisan" itu lho....

TIPS!

Kalo tulisan di blog saia ini terlalu kecil, monggo diperbesar. Untuk pengguna windows, tahan [Ctrl] sambil di-scroll mouse tengah. Untuk pengguna Mac, tahan [Cmd] dan tekan [+] atau [-].

Ga nyambung sih ini, bukan promosi, tapi kalo mau browser Safari, donlot di sini.

Blogroll: By Name


Abed Saragih "disave" |
Abi Harestya dan Bidadarinya |
Abu Aufa |
Abu Bakar "Bchree" |
Abu Ghalib |
Achmad Edi Goenawan |
Achoey El Harris |
Ade Kurniawati |
Adi Surya Pamungkas "bacelzone" |
Fan Adie Keputran |
Adya Ari Respati "abstractdoodle" |
Afra Afifah |
Ageng Indra |
Agry Pramita |
Agung Budidoyo |
Agung Firmansyah |
Agung Hasyim |
Agung Rangga "Popnote" |
Agung Yansusan Sudarwin |
Agustantyono |
Agyl Ardi Rahmadi |
Ahmad Musyrifin |
Akhmad Fauzi |
Alfi Syukrina |
Alid Abdul |
An Fatwa "Siho" |
Andi Nugraha |
Andi Sakab |
Andhika |
Andreas A. Marwadi |
Andrew Paladie |
Andrik Prastiyono |
Andyan |
Angga "SERBA BEBAS" |
Angga Dwinovantyo |
Anies Anggara |
Anindita |
Anistri |
Anita Rosalina |
Anto "Kaget" |
Anyes Fransisca |
Are 3DRumah |
Ari Artanto "Cah Gaul" |
Ari Muhardian "Tunsa" |
Ariana Yunita |
Arief Hartawan |
Arif "Bangkoor" Kurnia |
Arif Nurrahman |
Arif Sudharno Putro |
Ariyanti "Sauskecap" |
Arnolegsa Maupasha |
Arundati R.A. |
Aruni Yasmin Azizah |
Aryes Novianto |
Asep Saiba |
Asrul Sani |
Atha "kepompong" |
Aul Howler |
Awalul Hanafiyah "Masyhury" |
Baha Andes |
Baiq Fevy Wahyulana |
Bernadine Hendrietta |
Betania G. Rusmayasari |
Big Zaman |
Budi Nurhikmat |
Budi Prastyo "Kimbut" |
Calvin Sidjaja "Republik Babi" |
Cempaka Ariyanti |
Chocky Sihombing |
Citra "ceetrul" Hapsari |
Dadi Huang |
Danar Astuti Dewirini |
Daniel Hendrianto |
Daniel Maulana |
Deady Rizky |
Dede A. Hidayat |
Deny Marisa |
Depriyansyah Ramadhan "Iamcahbagus" |
Desita Hanafiah |
Destiana |
Desy Arista Y. |
Dewi Puspitasari |
Dewisri Sudjia "Desudija-DSK" |
Dhanika Budhi |
Dhewi Buana |
Dhimas Nugraha |
Didot Halim |
Dina Aprilia |
Dismas |
Ditya Pandu |
Doni Ibrahim |
Edda Nainay |
Efinda Putri |
Eko Ghesi Bardiyanto |
Elfa Silfiana |
Ella "Brokoli Keju" |
Erick Azof |
Erika Paraminda |
Erlin Fitriyanti |
Evan Ramdan |
Evet Hestara |
Fadhilatul Muharram |
Fahmi Nuriman |
Faisal Afif Alhamdi |
Faiza "MIDWIFE'S NOTES" |
Fandy Sutanto |
Fanny Azzuhra |
Fatra Duwipa |
Febe Fernita |
Felicia |
Ferry Irawan Kartasasmita "makhluk lemah" |
Fier "Pelancong Nekad" |
Fikri "Blue Zone" |
Fira "Fiya" |
Fitri Melinda |
Fitriyani |
Galih Gumilang "Gege House" |
Galuh Ristyanto |
Ghani Arasyid |
Gilang F. Pratama "Babiblog" |
Gitta Valencia |
Gugun "idebagusku.com" |
Gusti Ramli |
Hanif Ilham |
Hanny Aryunda Herman |
Hendrawan Rosyihan |
Hera Prahanisa |
Herni Bunga |
Herry "negeribocah" |
I Gede Adhitya Wisnu Wardhana |
Husfani A. Putri |
Ibnu Fajar "Ikky" |
Ilham JR |
Inge "Cyberdreamer" |
Intan Permata Kunci Marga |
Iqmal |
Irfan Andi|
Isdiyanto |
Ivan Prakasa |
Januar Nur Hidayanto "Yayanbanget" |
Jasmine Aulia |
Joko Santoso |
Joko Setiawan |
Juhayat Priatna |
Julianus Ginting |
Kang Ian . info |
Kang Ian . com |
Karina Utami Dewi |
Khalid Abdullah |
Khalifatun Nisa |
Kuchiki Rukia |
Lailaturrahmi Sienvisgirl Amitokugawa |
Lambertus Wahyu Hermawan |
Lerryant K. |
Lina Sophy |
Lucky DC |
Maghfiraa Alva |
Marchei |
Mario Sumampow |
Mas Ardi |
Mas Bair |
Mas Yudasta |
Mikhael Tobing |
Mirwanda |
Miswar Rasyid |
Mochammad AHAO |
Mohamad Husin |
Muhammad Abdul Azis |
Muhammad Hamka Ibrahim |
Muhammad Ihfazhillah |
Muhammad Riyan |
Muhammad Saiful Alam |
Muhammad Zakariah |
Nadia Fadhilah Riza |
Nanang Rusmana |
Nandini R.A. |
Necky Effendi |
Ninda Rahadi |
Nindy Ika Pratiwi |
Novina Erwiningsih |
Nur Azizah |
Nuri |
Perwira Aria Saputra |
Pipin Pramudia |
Pratita Kusuma |
Puji Lestari |
Pungky "PHIA" Widhiasari |
Putri Chairina |
Qori Qonita |
Radinal Maruddani |
Rahad Adjarsusilo |
Rahmat Hidayat |
Randi Rahmat |
Rasyida |
Regina |
Reisha Humaira |
Rie "Cerita Rie" |
Richie Lanover |
Rif'atul Mahmudah |
Rina Sari |
Rini Andriani "Athamiri" |
Riza Saputra |
Rizki "Hitam Putih Jingga" |
Rizki Akbar Maulana |
Ronie "Ravaelz" |
Rowman |
Rudi Wahyudi |
Ruri Octaviani |
Saipuddin Ar |
Septirani Chairunnisa Kamal |
Shafiqah Adia Treest |
Silvi Mustikawati |
Surya "Javanes" Pradhana |
Tasya Myanti |
Thyar |
Tiffany Victoria "Tiffa" |
T I W I |
Tony Koes "Macsize" |
Triana Frida Astary |
Triyani Fajriutami |
Uka Fahrurosid |
Ummu El Nurien</a. |
Upik "Pemburu Konstruksi Makna" |
Wahyu Asyari Muntaha |
Wahyu Nurudin |
Wahyu Putra Perdana |
Wendy Achmmad |
Widyan Fakhrul Arifin |
Wien Wisma |
Wildan Lazuardi |
Wiwin Siswanty |
Wiwing Fathonah Pratiwi |
Yori Yuliandra |
Yuli Anggeraini |
Zuli Taufik |
Love Tree

Subscribe in Bloglines

Powered by FeedBurner

Indonesian Muslim Blogger

I’m a Liverpudlian!



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 418 other followers